Thursday, December 24, 2015

(SHOLAWAT SYIFA & MAKNA SYAIR PEPALI KI AGENG SELO)



ALLAHUMMA SHOLLI 'ALA SAYYIDINA.
MUHAMMADIN THIBBIL QULUBI WADAWAIHA.
WA'AFIYATIL ABDANI WA SYIFA'IHA.
WA NUURIL ABSHOORI WADLIYAAIHA.
WA ALAA ALIHI WASHOHBIHI WASALLIM.
Arti : "Ya Allah curahkanlah rahmat kepada junjungan kita nabi Muhammad SAW, sebagai obat hati dan penyembuhnya, penyehat badan dan kesembuhannya dan sebagai penyinar penglihatan mata beserta cahayanya. Semoga sholawat dan salam tercurahkan pula kepada keluarga serta para shahabat-shahabatnya”
PEPALI KI AGENG, SELO AMBERKAHI
OJO GAWE ANGKUH, OJO LADAK LAN OJO JAHIL
OJO ATI SERAKAH LAN OJO CELIMUT,
OJO BURU ALEMAN LAN OJO LADAK
WONG LADAK PAN GELIS MATI, LAN OJO ATI NGIWO
Arti : "Larangan Ki Ageng Selo yang memberkahi, Jangan sombong, jangan bengis,dan jangan jahil. Jangan serakah dan jangan panjang tangan, jangan mencari pujian dan jangan angkuh. Orang yang angkuh akan cepat mati. dan jangan berkehendak negatif"
NIRUHO WONG MULYO, HABAIB ULOMO
NIYAT HORMAT GOLEK TSAWAB UJAR BERKAH KANG MINULYO
OJO SAMPE MODO, ORA KENO NYELO
LUWIH BECIK DEREK TINDAK LAMPAH PINUJI MINULYO
TEMBUNG ALUS ATI ATI, LUNGGUHE OJO SEMBRONO
Arti : "Tirulah orang mulia, seperti para habaib dan ulama. Berniat untuk menghormati, mencari pahala dan keberkahan dari nasihat orang mulia. jangan sampai menghina, jangan menyela. Lebih baik ikut aktivitasnya orang mulia. bicara dengan halus dan hati-hati, duduknya jangan seenaknya sendiri"
SOPO NANDUR BAGUS, BAKAL PANEN UGO
SENENG AYEM BAHAGIA, ANAK PUTU SAK KLUWARGO
LAMUN DADI PENGGEDE, PRINTAH ANAK BUAHE
OJO NGANTI KERAS KAKU, SAK SENENG KAREPE DEWE
DADIYO SIRO PELINDUNG, PRINTAH KELAWAN KIRO KIRO
Arti: "Siapa yang menanam kebaikan, pasti akan panen juga. Senang tenang dan bahagia bersama anak cucu sekeluarga. Ketika jadi pejabat, saat memerintah anak buah"

INDAHNYA AKHLAK AL HABIB AHMAD BIN HASAN AL-ATTHOS


Dikisahkan suatu hari Al Habib Ahmad bin Hasan Al ‘Atthos datang ke kota Syibam, beliau masuk ke masjid untuk melakukan solat berjama'ah, tetapi sudah ketinggalan beberapa raka'at hingga beliau menjadi makmum masbuk, sudah menjadi kebiasaan beliau, Iaitu agak cepat dalam solatnya, namun beliau melaksanakan seluruh rukunnya secara sempurna.
Salah seorang makmum yang belum mengenal beliau, melihat solat Al Habib Ahmad bin Hasan Al ‘Atthos seakan-akan tergesa dan orang tersebut merasa solatnya Habib Ahmad itu kurang sempurna, karena itu ia menunggu Habib Ahmad sampai selesai solat untuk menegurnya, setelah salam dari solat, orang itu langsung menghardik Habib Ahmad: "Solat macam apa ini, engkau kira saat ini dirimu berhadapan dengan siapa dalam solatmu dan engkau lakukan untuk siapa?"
Mendengar hal ini Habib Ahmad langsung menjawab: "Semoga Allah memberimu balasan yang baik, engkau telah menunjukkan kepadaku sesuatu yang tidak pernah aku sedari sebelumnya, mungkin engkau melihat kesalahan dalam ruku' atau sujudku, jadi sekarang aku akan ulangi solatku di hadapanmu dan tolong engkau betulkan kalau ada yang salah dalam rukunnya atau bacaannya." Orang itu berkata: "Kalau begitu itu lebih baik." Orang ini punya niat yang baik dan ia bangga lantaran merasa telah mengajarnya.
Akhirnya Habib Ahmad mengulangi solatnya dengan suara yang keras, membaca fatihah, surah pendek, lalu ruku' dan i'tidal dengan sempurna, serta membaca do'a yang telah diajarkan Sayyidina ‘Ali bin Abi Tholib Karromallahu Wajhah dalam sujud beliau, dan semuanya dibaca dengan suara jelas. Orang-orang yang lalu-lalang kehairanan dengan solat itu dan mereka tidak faham dengan solat ini. Setelah salam orang itu berkata kepadanya: "Ini solat yang sempurna bahkan lebih baik dari solatku, apalagi do'anya lebih banyak dan aku sendiri tidak hafal." Lalu Habib Ahmad berkata: "Sekali lagi saya mohon maaf dan terimakasih, karena engkau telah menunjukkan kepadaku perbuatan yang baik, aku sendiri juga ragu mungkin masih ada kesalahan dalam solatku."
Lalu orang itu keluar dari masjid lalu ada beberapa orang yang bertanya: "Apa yang telah engkau katakan kepada Al Habib Ahmad?" Ia heran dan bertanya: "Al Habib Ahmad siapa?", Mereka berkata: "Al Habib Ahmad bin Hasan Al ‘Atthos." Mendengar hal ini, orang itu langsung gementar: "Inna lillahi wa innaa ilaihi roji'un. Aku tidak tahu kalau beliau adalah Al Habib Ahmad bin Hasan Al ‘Atthos."
Dia langsung berlari menuju a Al Habib Ahmad bin Hasan Al ‘Atthos, disertai tangisan yang tersedu-sedu dengan penuh penyesalan, Dan Habib Ahmad pun menjawab dengan lembut: "Tidak usah engkau menangis, karena engkau telah menunjukkan kebaikan untukku. Engkau sama sekali tidak mencelaku dan engkau hanya mengajarkan solat kepadaku, semoga Allah SWT memberimu limpahan balasan kebaikan."
SUBHANALLLAH….
Lihatlah wahai para pecinta Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wassalam bagaimana kesabaran dan Husnudzon (prasangka baik ) Auliya Allah SWT ini. Hal ini merupakan budi pekerti yang mulia. Merekalah bejana-bejana ilmu. Hati-hati mereka memancarkan cahaya ilmu yang akhirnya menghasilkan budi pekerti yang luhur.
Sangat jelas terlihat kelakuan dan perbuatan Para Auliya Allah SWT tak lepas dari “Mutaba’ah binnabi shollallahu ‘alaihi wasallam.
Kami para Al ‘Aydrus kata Al Quthub Al Habib Abu Bakar bin 'Abdullah Al 'Aydrus Assakron memiliki satu amalan yang membuat kami sangat cepat menembus hadrohnya Allah SWT iaitu dengan “HUSNUDZON BILLAH” (Sangka Baik selalu kepada Allah SWT) terhadap apapun yang di takdirkan Alllah SWT baik itu berupa nikmat, bala musibah, pujian, hinaan, dan lainnya.

Friday, July 10, 2015

NDORO MAT AMIT Oleh: KH. A. Mustofa Bisri


Anak-anak kecil sangat takut dengan lelaki itu. Bukan saja karena tubuhnya yang tinggi besar; mukanya yang tak pernah tersenyum, dan bibirnya yang dower, tapi terutama karena kebiasaannya yang aneh. Suka mencaci dengan berteriak kepada siapa saja yang dijumpainya. tak peduli terhadap siapa saja --orang tua, anak-anak, laki-laki, perempuan, orang biasa, tokoh masyarakat-- lelaki yang di kampung kami dipanggil Ndoro Mat Amit itu selalu bersikap kasar. Caci maki baginya seperti salam saja. Setiap ketemu orang, kata-kata pertama yang keluar dari mulutnya adalah caci-maki atau kata-kata tidak jelas maknanya yang rupanya dia maksudkan juga sebagai cacian. Mungkin karena itu, atau mungkin juga karena tak tahu arti ndoro, anak-anak tidak ada yang memanggilnya Ndoro, hanya Mat Amit saja. Semula aku sendiri juga hanya memanggilnya Mat Amit, tapi setelah dimarahi ibuku, aku ikut-ikut orang tua memanggilnya Ndoro.

Tak ada seorang pun yang tahu persis di mana Ndoro Mat Amit tinggal. Orang-orang hanya tahu dia itu bukan penduduk asli, orang dari luar kota, tapi punya banyak kenalan di kota kami. Ada yang bilang dia dipanggil Ndoro karena masih keturunan Nabi. Hanya karena ia sering datang --hampir sebulan sekali, paling lama tiga bulan sekali-- banyak orang yang kemudian mengenalnya.

"Mat Amit! Mat Amit!" begitu teriak anak-anak bila melihat sosok raksasa itu datang. Dan anak-anak yang sedang asyik bermain itu pun buyar; berlarian ke sana kemari seperti gerombolan anak kijang melihat harimau.

Di antara yang sering dikunjungi Ndoro Mat Amit adalah rumah kami. Kalau datang, ia tidak pernah lupa mampir ke rumah. Entah mengapa. Mungkin dia menyukai ayahku yang memang ramah terhadap setiap tamu. Ayah pernah menasihatiku: menghormati tamu itu merupakan anjuran Rasulullah; jadi siapa pun tamu kita, mesti kita hormati. Muslim yang baik ialah yang dapat menundukkan rasa suka dan tidak sukanya demi melaksanakan ajaran Rasulnya.

"Tapi Ndoro Mat Amit sendiri tidak ramah, Yah," selaku, "bahkan menakutkan!"

"Apa yang kau takuti? Dia itu manusia biasa juga seperti kita," kata Ayah menjelaskan. "Dia kan tidak pernah mengigit orang. Orang itu kan macam-macam tabiatnya. Ada yang kasar, ada yang lembut. Ada yang sopan, ada yang tidak. Kita sendiri memang harus berusaha menjadi orang yang lembut dan sopan, tapi kan tidak harus membenci mereka yang belum bisa bersikap begitu. Dan ingat, cung (cung, dari kacung = panggilan untuk anak kecil); penampilan luar orang belum tentu menggambarkan pribadinya, bahkan seringkali kita terkecoh kalau hanya melihat penampilan seseorang. Bukankah sering kita melihat orang yang tampaknya sopan dan halus, ternyata tabiatnya suka menghasut."

Entah karena nasihat Ayah atau mungkin karena sudah terbiasa, akhirnya aku sendiri --tidak seperti banyak kawanku-- tidak begitu takut lagi dengan Ndoro Mat Amit. Memang dulu --dalam kesempatan berkunjung ke rumah-- pernah aku dipanggil Ndoro Mat Amit, tepatnya dibentak, hingga gemetaran.

"Hei, kamu, bajingan, kemari!"

Aku terpaku ketakutan. "Setan kecil! Punya telinga, tidak?" teriaknya lagi. "Aku memanggilmu, Bahlul!"

Aku pun ragu-ragu mendekat dengan kewaspadaan penuh. Pikirku, kalau dia macam-macam, mau mengampar misalnya, aku sudah siap melarikan diri.

Ternyata dia merogoh saku jasnya yang kumal, mengeluarkan beberapa uang receh, dan memberikannya kepadaku. "Ini, buat jajan kamu dan kawan-kawanmu!" katanya kasar.

"Goblok! Terima!" Ragu-ragu aku menerima pemberiannya.

"Lho, apalagi? kurang?" Dia merogoh lagi sakunya dan memberikan lagi uang receh kepadaku. "Sekarang minggat!" teriaknya kemudian mengejutkanku. "Cepat minggat! Monyet kecil!!!" Aku pun berlari meninggalkannyaa. Ngeri, tapi senang juga mendapat uang jajan yang cukup untuk menraktir kawan-kawan ke warung pecel De Karmonah. Ada baiknya juga orang sangar ini.

Sudah menjadi kebiasaan, pada bulan Maulud (Rabi'ul Awwal) Ayah mengadakan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di aula pesantrennya. Dulu acaranya sederhana saja. Tidak ada ceramah-ceramah seperti sekarang. Hanya berzanjenan, membaca syair-syair madah Al-Banzanji-nya Syeikh Ja'far Al-Barzanji, untuk mengenang dan memuji Rasulullah SAW. Orang-orang bergiliran membaca dengan lagu yang berbeda-beda. Ada yang irama dan nadanya seperti lagu India, ada yang seperti lagu Melayu, ada lagu padang pasir, dsb. Bahkan ada yang menembak irama lagu Pengantin Baru. Kalau lagunya agak sulit, orang-orang yang "koor" mengikutinya agak kerepotan juga. Biasanya ada grup rebana yang mengiringi.

Dalam acara semacam ini Ndoro Mat Amit tidak pernah absen hadir dengan pakaian kebesarannya yang khas: sarung plekat, jas yang berkantong besar; peci torbus merah, dan sepatu dengan kaos kaki tebal. Dia kelihatan paling bersemangat menyahuti syair-syair yang dilagukan. Seperti sosoknya, suaranya juga paling menonjol. Keras, sember; dan sumbang; membuat anak-anak muda menahan senyum dan anak-anak kecil cekikikan campur takut. Tidak seperti biasanya, dalam acara seperti itu, Ndoro Mat Amit tidak peduli; dia tetap asyik menyahuti shalawat Nabi dengan serius dan sepenuh hati.

Sampai suatu ketika, pada acara Mauludan seperti itu terjadi peristiwa yang menarik. Pada saat asyraqalan, di mana semua yang hadir berdiri sambil melantunkan shalawat mulai dari Thala'al Badru 'alainaa ... Ndoro Mat Amit tampak menunduk-menunduk sambil menangis meraung-raaung. Sementara di bagian lain terlihat pemandangan yang serupa: Pak Min, kusir dokar yang biasa mengantar Ayah bila bepergian agak jauh, juga menunduk-menunduk sambil menangis, meski tidak sekeras Ndoro Mat Amit. Tentu saja sikap kedua orang itu menarik perhatian sekalian yang hadir. bahkan setelah selesai acara Berzanjenan, pada waktu acara makan bersama, kulihat Ayah mendekati Pak Min dan menanyainya, "Kang Min, tadi waktu asyraqalan aku lihat kamu kok menunduk-nunduk sambil menangis. Mengapa?"

"Lho, apa Kiai nggak pirso tadi itu Kanjeng Nabi rawuh?" Kang Min balas bertanya sambil berbisik.
"Lho, masak iya, Kang Min?" ayah seperti kaget. "Aku kok nggak melihat."
"Kusir samber gelap!" tiba-tiba suara geledek Ndoro Mat Amit menyambar. "Begitu saja ente pamer-pamerkan, Min, Min! Dasar kusir kucing kurap!"
"Siapa yang pamer, Yik (Yik berasal dari Sayyid = panggilan untuk orang Arab di Jawa)?" sahut Pak Min. "Aku kan ditanya Kiai. Memangnya aku mesti diam saja ditanya Kiai?"
"Kusir tengik, tak tahu malu!"
"Kau ini, Yik, yang tak tahu malu!" sergah Pak Min dengan berani, membuat orang-orang tercengang. "Dari dulu nggak capek-capeknya pakai topeng monyet. Sudahlah, Yik, yang wajar-wajar saja! Untuk apa pakai topeng segala! Ente pikir, dengan pakai topeng monyet begitu ente bisa menyembunyikan diri ente? kusir dokar saja tahu siapa ente sebenarnya."
Orang-orang mengira Ndoro Mat Amit akan meradang dan menerkam atau setidaknya menyumpahi Kang Min habis-habisan. Ternyata tidak. Ndoro kita ini malah menunduk dan tak lama kemudian, "Assalaamu 'alaikum!" katanya memberi salam kepada semua, dan --lho!-- ditinggalkannya majlis begitu saja.
Dari kejauhan masih terdengar lamat-lamat umpatannya, "Kusir edan!"
Sejak itu, Ndoro Mat Amit menghilang. Tak pernah lagi datang ke kota kami.
Demikian pula Pak Min. tak lama setelah kepergian Ndoro Mat Amit, Pak Min pamit kepada Ayah dan menyerahkan dokar dan kudanya. Katanya mau pulang ke desanya, tapi setelah itu tak pernah kembali.

"Dua orang itu," kata Ayah saat aku mintai penjelasan, "Sayyid Muhammad Al Hamid --yang dikenal sebagai Ndoro Mat Amit-- dan Kiai Mukmin --yang biasa dipanggil Pak Min atau Kang Min-- sebenarnya sama-sama memakai topeng. Artinya keduanya ingin menyembunyikan diri mereka yang sebenarnya agar tidak dikenali orang. Keduanya ingin tampak awam, bahkan hina, di depan umum. Yang satu dengan berlagak kasar tak tahu sopan; yang satunya lagi bersembunyi dalam pekerjaannya sebagai kusir. Dulu banyak orang saleh yang menyembunyikan diri seperti itu, bahkan ada yang berpura-pura gila. Ada yang melakukan hal itu karena khawatir didekati penguasa; ada yang tak mau kehilangan kenikmatan sebagai hamba yang papa di hadapan Allah; ada juga yang semata-mata karena takut hatinya terserang ujub."

"Tapi, seperti kau ketahui, takdir mempertemukan kedua tokoh bertopeng itu dan tanpa sadar topeng-topeng mereka terlepas. Keistimewaan mereka pun terlihat oleh kita. Kamu lihat waktu berzanjenan itu: dari sekian banyak kiai, tak ada seorang pun yang melihat kehadiran Rasulullah, juga Ayah. Hanya mereka berdua. Itu, Wallahu a'lam, merupakan tanda bahwa hati mereka memang bersih. hanya mereka yang mempunyai hati bersih, yang dapat melihat alam malakut dan roh suci nabi. Ayah yakin mereka berdua tak akan pernah kembali kemari, selamanya. Wali mastur, yang menyembunyikan kesalehannya, selalu menghilang bila ketahuan umum."

Rembang, 3 Ramadan 1423

Saturday, March 7, 2015

Monday, February 2, 2015

KEMULIAAN WAJAH RASULULLAH S.A.W DAN WAJAH NABIYULLAH YUSUF As.



Prof.Abuya As Sayyid Muhammad bin 'Alawy Al Maliki r.a.menjelaskan tentang perbedaan wajah Nabiyullah Yusuf As.dgn wajah Nabi Muhammad Saw :
"Sebagaimana dahulu di zaman Nabi Yusuf As.banyak para wanita tergila-gila padanya,bahkan sampai ada yang memotong jari-jarinya karena indahnya melihat wajah Nabiyullah Yusuf As.
Firman Allah ( QS. YUSUF : 31).
"Ketika perempuan-perempuan itu melihatnya,mereka terpesona kepada (keelokan rupanya) dan mereka (tanpa sadar) melukai tanganya sendiri, seraya berkata :"Maha sempurna Allah, ini bukanlah manusia, sungguh ini adalah malaikat yang sempurna".
(QS.Yusuf : 31).
Maka berkatalah Abuya As Sayyid Muhammad bin'Alawi Al Maliki r.a.menukil salah satu riwayat sahabat Nabi Saw,bahwa Allah tidak menampakan keindahan wajah Rasulullah Saw secara keseluruhan di muka bumi ini,hanya satu keindahan saja dari 10 bagian yg diperlihatkan.
"Jika seandainya yg 9 bagian itu ditampakan juga maka orang2 akan mengiris hatinya tanpa terasa karena indahnya wajah Nabi Muhammad Saw."
Nabi Muhammad Saw dan Nabi Yusuf As.Keduanya mendapatkan keistimewaan ketampanan yg masyhur dan luar biasa.
Namun Nabi Muhammad Saw memiliki sebuah kelebihan yg tidak dimiliki oleh Nabi Yusus As yaitu al Haibah al Jalaliyah wa Dlou-un Nuroniyah.
Haibah yg tidak dimiliki oleh Nabi Yusuf As ini membuat ketampananya menghipnotis para wanita dan di gandrungi banyak orang.
Haibah yg tidak dimiliki Nabi Yusuf As ini juga menyebabkan kakak-kakaknya mendengki padanya dan berusaha mencelakainya.
al-Haibah al Jalaliyah yg dimiliki Nabi Muhammad Saw menjadikan kewibawaanya lebih mendominasi daripada ketampananya,hingga tak seorangpun wanita berani menatapnya karena rasa hormat kepadanya,apalagi tergila-gila seperti yg dilakukan tuan putri Zulaiha pada Nabi Yusuf As.
Rasulullah Saw juga memiliki Dlou-un Nuroniyah (Cahaya yang menerangi)
Di kisahkan suatu saat istri Nabi Muhammad Saw menjahit baju,tiba-tiba lampunya mati,karena saking terkejutnya jarum yg di gunakan menjahit itu terlempar entah kemana.
Ketika Nabi Muhammad Saw keluar dan bertanya padanya "Ada apakah gerangan..?"
Seketika itu isteri Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam melihat Cahaya dari tubuh Nabi shallallahu'alaihi wasallam hingga jarum yg terlempar itu bisa terlihat.
Al Imam Ghazali, menjelaskan dalam "Ihya Ulum-Id-Din : "Rasulullah Saw, memiliki jasmani yg tampan,sebagian para sahabat menyatakan senyuman beliau seindah Bulan Purnama.
Hidung tipis,wajahnya halus,janggutnya tebal,lehernya indah,jika cahaya matahari menyinari lehernya,hal itu tampak campuran antara perak dan emas,bagian antara pundaknya begitu lebar."
Sayydina Ibrahim bin Muhammad Ra
Berkata : "Ketika Sayydina Ali bin abi Thalib krw menggambarkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam,ia berkata,"Beliau Saw tidak terlalu tinggi atau pendek,melainkan seorang pria yg tinggi sedang.
Rambut beliau tidaklah keriting ataupun bergelombang namun paduan daripadanya.Kulit beliau agak putih kemerahan,beliau memiliki bagian mata yg hitam dan bulu mata yang panjang,beliau memiliki bagian yg menonjol dari tulang belikatnya.
Diantara pundak beliau terdapat tanda kenabian,beliau memiliki dada yg paling sempurna di banding orang lain.Beliau memiliki perangai yg lemah lembut dan silsilah yg paling mulia.
mereka yg melihatnya langsung berdiri dengan perasaan kagum kepadanya dan mereka yg berkenalan langsung mencintainya, mereka menggambarkan beliau mengatakan bahwa belum pernah melihat seorangpun seperti beliau dulu ataupun setelahnya."
Sayydina Hasan Ra.berkata :"Beliau memiliki kualitas dan penampilan yg sempurna, yg lain juga menghargainya begitu tinggi wajahnya yg penuh berkah bersinar seperti bulan purnama.Beliau lebih tinggi daripada pria yg tinggi.Rambutnya Saw ikal,jika rambutnya terbelah tanpa sengaja,beliau akan membiarkanya saja,kalau tidak,maka beliau tidak membuatnya menjadi terbelah di tengah.Rasulullah Saw memiliki corak kulit yg berkilauan dan dahi yg lebar.Alis beliau begitu tebal dan rapi,leher beliau begitu indah dan tipis,seperti patung yg terpahat dgn rapi,warna kulitnya begitu jelas,bersinar dan indah laksana perak.Seluruh bagian tubuhnya memiliki ukuran yang sempurna.Tubuh beliau tersusun dgn sempurnanya."
Kelak wajah itu akan diperlihatkan kepada umat manusia di Telaga Haudh,di hari kiamat.
Semoga kita di izinkan memandang wajah yang indah itu.
Aamiin ya Robbal Aalamiin.
Allahumma sholli wa shallim wa baarik alaa Sayydina Muhammad wa alaa alihi wa shohbih.

Saturday, January 17, 2015

MP3 TAUSIYAH KH ABDULLAH SYAFI'I



1. Ceramah KH Abdullah Syafi'i - Kemerdekaan Diri - Klik Disini
2. Ceramah KH Abdullah Syafi'i - Kesombongan Iblis - Klik Disini
3. Ceramah KH Abdullah Syafi'i - Bid'ah-Bid'ah yang baik - Klik Disini
4. Ceramah KH Abdullah Syafi'i - Beramal sebelum terlambat - Klik Disini
5. Ceramah KH Abdullah Syafi'i - Ashabul Kahfi - Klik Disini
6. Ceramah KH Abdullah Syafi'i - Menolak Syariat - Klik Disini
7. Ceramah KH Abdullah Syafi'i - Niat Ikhlas - Klik Disini
8. Ceramah KH Abdullah Syafi'i - Keutamaan membaca Al Quran - Klik Disini
9. Ceramah KH Abdullah Syafi'i - Tentang Dakwah - Klik Disini
10. Ceramah KH Abdullah Syafi'i - Shalawat Atas Nabi Muhammad Saw - Klik Disini
11. Ceramah KH Abdullah Syafi'i - Perilaku Curang - Klik Disini