Download MP3 : Klik Disini
Jika riwayat hidup kaum arifin dibacakan kepada orang yang beriman, maka imannya kepada Allah akan semakin kokoh.Sebab kehidupan mereka merupakan cerminan dari kitabullah yg di dalamnya terkandung ilmu orang-orang terdahulu dan yang akan datang kemudian ( Al Habib Ali Bin Muhammad Alhabsyi ra)
Wednesday, October 29, 2014
Friday, September 19, 2014
TEKS QASIDAH YA ALLAH BIHA (YA AHLAL ‘UQULI SALIMAH)
يا الله بها يا الله بها يا الله بها يا الله بها
Yâ Allâh bihâ Yâ Allâh bihâ
Yâ Allâh bihâ Yâ Allâh bihâ
يا الله بحسن الخاتمه
Yâ Allâh bihusnil khôtimah
يا أهل العقول السالمه وأهل القلوب العالمه
Yâ ahlal ‘uqûlis-sâlimah wa ahlal qulûbil ‘âlimah
قوموا بهمه عازمه
Qûmû bihimmah ‘âzimah
وبصدق نيه جازمه
Wa bishidqi niyyah jâzimah
فهي إليها المنتهی قد قال أرباب النهی
Fahiya ilaihâl muntahâ qod qôla arbâbun-nuhâ
يا الله بها يا الله بها
Yâ Allâh bihâ Yâ Allâh bihâ
دعوی عجيبه تامة
Da’wâ ‘ajîbah tâmmah
يا ربنا ياربنا ألطف بنا واغفرلنا
Yâ robbanâ yâ robbanâ ulthuf binâ waghfir lanâ
واختم بخير ان دنا
Wakhtim bikhoirin in danâ
إبان يوم الطامه
Ibbâna yaumith-thômmah
يا رب کن لی يامعين إذا رشح عظم الجبين
Yâ robbi kun lî yâ mu’în idzâ rosyah ‘adhmul jabîn
واختم إله باليقين
Wakhtim ilâhi bil yaqîn
من قبل لوم اللائمه
Min qobli laumillâ-imah
يارب مامعنا عمل وگسبنا کله زلل
Yâ robbi mâ ma’nâ ‘amal wa kasbunâ kulluh zalal
لکن لنا فيك أمل
Lâkin lanâ fîka amal
تحيی العظام الرامه
Tuhyil ‘idhômir-rômah
لکن ارجو ذو الجلال
Lâkinni arjû dzûl jalâl
بجاه والد فاطمه
Bijâhi wâlid Fâthimah
امنن بحسن الخاتمه
Umnun bihusnil khôthimah
Thursday, September 4, 2014
MP3 AL HABIB SYECH BIN ABDULQODIR ASSEGAF VOLUME 10
- Al Madad Ya Rasulullah Klik Disini
- Al I'tirof Klik Disini
- Kisah Rasul Klik Disini
- Lir Ilir Sholatullah Klik Disini
- Padang Bulan Klik Disini
- Shoawat Kawakib Klik Disini
Sunday, June 8, 2014
21-23 Juni 2014 Haul Habib Ali Al Habsyi Kwitang
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Berikut beberapa informasi serangkaian agenda kegiatan mulai dari
21 Juni sampai 23 Juni 2014
Hari, Tanggal, Jam
Sabtu, 21 Juni 2014, Jam 17.00 WIB sampai selesai
Lokasi : di Rauhah di Majlis Ta'lim Habib Ali Alhabsyi Kwitang, Senen, Jakpus. Ba'da Maghrib dilanjutkan dengan Ziarah Bersama ke Makam Al-Habib Ali Alhabsyi di Masjid Ar-Riyadh
Minggu, 22 Juni 2014 Jam 7.30 sampai 10.00 WIB
Tawaquf Majlis Ta'lim Habib Ali Alhabsyi Kwitang
Tawaquf Majlis Ta'lim Habib Ali Alhabsyi Kwitang
Minggu, 22 Juni 2014, Jam 11.00 sampai selesai
Akhir Ziarah & Tawaquf di Makam Al-Habib Abdurrahman bin Abdullah Alhabsi (Cikini)
Kami sangat mengharapkan kehadiran jama'ah sekalian … Wa'alaikumussalam …
(Yayasan Makam Habib Cikini)
info dari al Habib Abdurrahman Alhabsyi
Akhir Ziarah & Tawaquf di Makam Al-Habib Abdurrahman bin Abdullah Alhabsi (Cikini)
Kami sangat mengharapkan kehadiran jama'ah sekalian … Wa'alaikumussalam …
(Yayasan Makam Habib Cikini)
info dari al Habib Abdurrahman Alhabsyi
Pengumuman : Haul Al-Habib Ahmad Al-Atthas 'Sapuro' Pekalongan
Assalamu'alaikum Wr. Wb
Susunan acara Haul Al-Habib Ahmad bin Abdullah bin Thalib Al-Atthas Pekalongan.
- Rouhah : Rabu, 11 Juni 2014
Pkl. 16.30 wib - selesai.
Di Masjid Roudloh Jl.H.Agus Salim Pekalongan.
Khodimul Majlis : Maulana Al-Habib Abdullah Baqir bin Ahmad Al-Atthas
- Haul Akbar : Kamis, 12 Juni 2014
Pkl. 08.00 wib - selesai.
Di Maqbarah Sapuro - Pekalongan.
- Maulid : Kamis, 12 Juni 2014
Ba'da Dzhuhur awal - selesai.
Di Masjid Roudloh Jl.H.Agus Salim Pekalongan
Khodimul Majlis : Maulana Al-Habib Abdullah Baqir bin Ahmad Al-Atthas.
Informasi ini sekaligus sebagai undangan & mohon sebarkan.
Friday, May 23, 2014
Karomah Kiai Kholil Bangkalan: Pencuri Timun Tidak Bisa Duduk
Pada suatu hari petani timun di Daerah Bangkalan sering mengeluh. Setiap timun yang siap dipanen selalu kedahuluan dicuri maling. Begitu peristiwa itu terus-menerus terjadi. Kejadian yang memilukan ini membuat petani timun tidak sabar lagi. Setelah bermusyawarah sesama petani, maka diputuskan untuk sowan ke Kiai Khalil.
Sesampainya di rumah kiai, sebagaimana biasanya kiai sedang mengajarkan kitab nahwu. Kitab tersebut bernama Jurmiyah, suatu kitab tata bahasa arab tingkat pemula. "Assalamu'alaikum Kiai, "ucapan para petani serentak. "Waalaikum salam," jawab Kiai Khalil. Melihat banyaknya petani yang datang, kiai bertanya,"Sampean ada keperluan, ya ... ". "Benar, Kiai. Akhir-akhir ini, ladang timun kami selalu dicuri maling. Kami mohon kepada Kiai untuk penangkalnya," kata petani dengan nada memohon penuh harap.
Saat itu kitab yang dikaji oleh kiai sampai kepada kalimat Qoma Zaidun yang artinya Zaid telah berdiri. Beberapa saat tampak hening. Tibatiba Kiai Khalil berbicara, sambil menunjuk kepada huruf Qoma Zaidun. "Ya karena pengajian ini sampai kepada Qoma Zaidun, ya ..... Qama Zaidun ini saja dipakai sebagai penangkalnya" seru Kiai Khalil dengan tegas dan mantap. "Sudah Kiai ?" ujar para petani sedikit tampak ragu. "Ya .... Sudah," jawab Kiai Kholil menandaskan. Merasa puas dapat penangkal dari kiai Khalil para petanipun pulang ke rumah masing-masing.
Keesokan harinya, seperti biasa para petani pergi ke sawah. Namun betapa terkejutnya sesampainya petani di ladang masing-masing. Dihadapannya sejumlah maling timun tegak berdiri mematung, mereka terus-menerus berdiri dan tidak dapat duduk. Tak ayal lagi, semua maling timun yang merajalela selama ini dapat diketahui dan ditangkap.
Lama kelamaan, berita tertangkapnya maling yang tidak bisa duduk ini tersebar luas. Sungguhpun pencuri telah tertangkap namun masih tetap berdiri. Beberapa orang berupaya untuk mendudukkan namun sia-sia belaka. Maling timun tetap berdiri dengan muka pucat pasi, sementara orang yang menonton semakin lama-semakin banyak. Merasa kualahan menga tasi, akhirnya para petani memutuskan untuk sowan ke Kiai Khalil lagi. Sama seperti ketika datang pertama kali, setelah berbincang-bincang sejenak Kiai Kholil memberi segelas air penangkal. Setelah para petani mendapat air penangkal segera pamit lalu pulang. Air pernangkal lalu di percikkan kepada maling yang tidak bisa duduk. Sungguh luar biasa, hanya sekali percik sernua pencuri jatuh terduduk lunglai di tanah. Dengan suara iba semua pencuri minta ampun dan mengakui kesalahannya. Mereka berjanji tidak akan mencuri lagi.
Maka sejak kejadian itu, tidak pernah terjadi pencurian timun lagi. Para petani bersyukur karena ladangnya menjadi aman. Sebagai rasa terima kasih kepada Kiai Khalil, para petani sepakat menyerahkan hasil panenan timun ke pesantren. Berdokar-dokar timun mendatangi pesantren. Sejak itu, para santri kebanjiran timun, seluruh pojok pesantren dipenuhi dengan timun.
Sesampainya di rumah kiai, sebagaimana biasanya kiai sedang mengajarkan kitab nahwu. Kitab tersebut bernama Jurmiyah, suatu kitab tata bahasa arab tingkat pemula. "Assalamu'alaikum Kiai, "ucapan para petani serentak. "Waalaikum salam," jawab Kiai Khalil. Melihat banyaknya petani yang datang, kiai bertanya,"Sampean ada keperluan, ya ... ". "Benar, Kiai. Akhir-akhir ini, ladang timun kami selalu dicuri maling. Kami mohon kepada Kiai untuk penangkalnya," kata petani dengan nada memohon penuh harap.
Saat itu kitab yang dikaji oleh kiai sampai kepada kalimat Qoma Zaidun yang artinya Zaid telah berdiri. Beberapa saat tampak hening. Tibatiba Kiai Khalil berbicara, sambil menunjuk kepada huruf Qoma Zaidun. "Ya karena pengajian ini sampai kepada Qoma Zaidun, ya ..... Qama Zaidun ini saja dipakai sebagai penangkalnya" seru Kiai Khalil dengan tegas dan mantap. "Sudah Kiai ?" ujar para petani sedikit tampak ragu. "Ya .... Sudah," jawab Kiai Kholil menandaskan. Merasa puas dapat penangkal dari kiai Khalil para petanipun pulang ke rumah masing-masing.
Keesokan harinya, seperti biasa para petani pergi ke sawah. Namun betapa terkejutnya sesampainya petani di ladang masing-masing. Dihadapannya sejumlah maling timun tegak berdiri mematung, mereka terus-menerus berdiri dan tidak dapat duduk. Tak ayal lagi, semua maling timun yang merajalela selama ini dapat diketahui dan ditangkap.
Lama kelamaan, berita tertangkapnya maling yang tidak bisa duduk ini tersebar luas. Sungguhpun pencuri telah tertangkap namun masih tetap berdiri. Beberapa orang berupaya untuk mendudukkan namun sia-sia belaka. Maling timun tetap berdiri dengan muka pucat pasi, sementara orang yang menonton semakin lama-semakin banyak. Merasa kualahan menga tasi, akhirnya para petani memutuskan untuk sowan ke Kiai Khalil lagi. Sama seperti ketika datang pertama kali, setelah berbincang-bincang sejenak Kiai Kholil memberi segelas air penangkal. Setelah para petani mendapat air penangkal segera pamit lalu pulang. Air pernangkal lalu di percikkan kepada maling yang tidak bisa duduk. Sungguh luar biasa, hanya sekali percik sernua pencuri jatuh terduduk lunglai di tanah. Dengan suara iba semua pencuri minta ampun dan mengakui kesalahannya. Mereka berjanji tidak akan mencuri lagi.
Maka sejak kejadian itu, tidak pernah terjadi pencurian timun lagi. Para petani bersyukur karena ladangnya menjadi aman. Sebagai rasa terima kasih kepada Kiai Khalil, para petani sepakat menyerahkan hasil panenan timun ke pesantren. Berdokar-dokar timun mendatangi pesantren. Sejak itu, para santri kebanjiran timun, seluruh pojok pesantren dipenuhi dengan timun.
Wallahu`alam
Subscribe to:
Posts (Atom)





