Showing posts with label KISAH & HIKMAH. Show all posts
Showing posts with label KISAH & HIKMAH. Show all posts

Thursday, December 24, 2015

(SHOLAWAT SYIFA & MAKNA SYAIR PEPALI KI AGENG SELO)



ALLAHUMMA SHOLLI 'ALA SAYYIDINA.
MUHAMMADIN THIBBIL QULUBI WADAWAIHA.
WA'AFIYATIL ABDANI WA SYIFA'IHA.
WA NUURIL ABSHOORI WADLIYAAIHA.
WA ALAA ALIHI WASHOHBIHI WASALLIM.
Arti : "Ya Allah curahkanlah rahmat kepada junjungan kita nabi Muhammad SAW, sebagai obat hati dan penyembuhnya, penyehat badan dan kesembuhannya dan sebagai penyinar penglihatan mata beserta cahayanya. Semoga sholawat dan salam tercurahkan pula kepada keluarga serta para shahabat-shahabatnya”
PEPALI KI AGENG, SELO AMBERKAHI
OJO GAWE ANGKUH, OJO LADAK LAN OJO JAHIL
OJO ATI SERAKAH LAN OJO CELIMUT,
OJO BURU ALEMAN LAN OJO LADAK
WONG LADAK PAN GELIS MATI, LAN OJO ATI NGIWO
Arti : "Larangan Ki Ageng Selo yang memberkahi, Jangan sombong, jangan bengis,dan jangan jahil. Jangan serakah dan jangan panjang tangan, jangan mencari pujian dan jangan angkuh. Orang yang angkuh akan cepat mati. dan jangan berkehendak negatif"
NIRUHO WONG MULYO, HABAIB ULOMO
NIYAT HORMAT GOLEK TSAWAB UJAR BERKAH KANG MINULYO
OJO SAMPE MODO, ORA KENO NYELO
LUWIH BECIK DEREK TINDAK LAMPAH PINUJI MINULYO
TEMBUNG ALUS ATI ATI, LUNGGUHE OJO SEMBRONO
Arti : "Tirulah orang mulia, seperti para habaib dan ulama. Berniat untuk menghormati, mencari pahala dan keberkahan dari nasihat orang mulia. jangan sampai menghina, jangan menyela. Lebih baik ikut aktivitasnya orang mulia. bicara dengan halus dan hati-hati, duduknya jangan seenaknya sendiri"
SOPO NANDUR BAGUS, BAKAL PANEN UGO
SENENG AYEM BAHAGIA, ANAK PUTU SAK KLUWARGO
LAMUN DADI PENGGEDE, PRINTAH ANAK BUAHE
OJO NGANTI KERAS KAKU, SAK SENENG KAREPE DEWE
DADIYO SIRO PELINDUNG, PRINTAH KELAWAN KIRO KIRO
Arti: "Siapa yang menanam kebaikan, pasti akan panen juga. Senang tenang dan bahagia bersama anak cucu sekeluarga. Ketika jadi pejabat, saat memerintah anak buah"

INDAHNYA AKHLAK AL HABIB AHMAD BIN HASAN AL-ATTHOS


Dikisahkan suatu hari Al Habib Ahmad bin Hasan Al ‘Atthos datang ke kota Syibam, beliau masuk ke masjid untuk melakukan solat berjama'ah, tetapi sudah ketinggalan beberapa raka'at hingga beliau menjadi makmum masbuk, sudah menjadi kebiasaan beliau, Iaitu agak cepat dalam solatnya, namun beliau melaksanakan seluruh rukunnya secara sempurna.
Salah seorang makmum yang belum mengenal beliau, melihat solat Al Habib Ahmad bin Hasan Al ‘Atthos seakan-akan tergesa dan orang tersebut merasa solatnya Habib Ahmad itu kurang sempurna, karena itu ia menunggu Habib Ahmad sampai selesai solat untuk menegurnya, setelah salam dari solat, orang itu langsung menghardik Habib Ahmad: "Solat macam apa ini, engkau kira saat ini dirimu berhadapan dengan siapa dalam solatmu dan engkau lakukan untuk siapa?"
Mendengar hal ini Habib Ahmad langsung menjawab: "Semoga Allah memberimu balasan yang baik, engkau telah menunjukkan kepadaku sesuatu yang tidak pernah aku sedari sebelumnya, mungkin engkau melihat kesalahan dalam ruku' atau sujudku, jadi sekarang aku akan ulangi solatku di hadapanmu dan tolong engkau betulkan kalau ada yang salah dalam rukunnya atau bacaannya." Orang itu berkata: "Kalau begitu itu lebih baik." Orang ini punya niat yang baik dan ia bangga lantaran merasa telah mengajarnya.
Akhirnya Habib Ahmad mengulangi solatnya dengan suara yang keras, membaca fatihah, surah pendek, lalu ruku' dan i'tidal dengan sempurna, serta membaca do'a yang telah diajarkan Sayyidina ‘Ali bin Abi Tholib Karromallahu Wajhah dalam sujud beliau, dan semuanya dibaca dengan suara jelas. Orang-orang yang lalu-lalang kehairanan dengan solat itu dan mereka tidak faham dengan solat ini. Setelah salam orang itu berkata kepadanya: "Ini solat yang sempurna bahkan lebih baik dari solatku, apalagi do'anya lebih banyak dan aku sendiri tidak hafal." Lalu Habib Ahmad berkata: "Sekali lagi saya mohon maaf dan terimakasih, karena engkau telah menunjukkan kepadaku perbuatan yang baik, aku sendiri juga ragu mungkin masih ada kesalahan dalam solatku."
Lalu orang itu keluar dari masjid lalu ada beberapa orang yang bertanya: "Apa yang telah engkau katakan kepada Al Habib Ahmad?" Ia heran dan bertanya: "Al Habib Ahmad siapa?", Mereka berkata: "Al Habib Ahmad bin Hasan Al ‘Atthos." Mendengar hal ini, orang itu langsung gementar: "Inna lillahi wa innaa ilaihi roji'un. Aku tidak tahu kalau beliau adalah Al Habib Ahmad bin Hasan Al ‘Atthos."
Dia langsung berlari menuju a Al Habib Ahmad bin Hasan Al ‘Atthos, disertai tangisan yang tersedu-sedu dengan penuh penyesalan, Dan Habib Ahmad pun menjawab dengan lembut: "Tidak usah engkau menangis, karena engkau telah menunjukkan kebaikan untukku. Engkau sama sekali tidak mencelaku dan engkau hanya mengajarkan solat kepadaku, semoga Allah SWT memberimu limpahan balasan kebaikan."
SUBHANALLLAH….
Lihatlah wahai para pecinta Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wassalam bagaimana kesabaran dan Husnudzon (prasangka baik ) Auliya Allah SWT ini. Hal ini merupakan budi pekerti yang mulia. Merekalah bejana-bejana ilmu. Hati-hati mereka memancarkan cahaya ilmu yang akhirnya menghasilkan budi pekerti yang luhur.
Sangat jelas terlihat kelakuan dan perbuatan Para Auliya Allah SWT tak lepas dari “Mutaba’ah binnabi shollallahu ‘alaihi wasallam.
Kami para Al ‘Aydrus kata Al Quthub Al Habib Abu Bakar bin 'Abdullah Al 'Aydrus Assakron memiliki satu amalan yang membuat kami sangat cepat menembus hadrohnya Allah SWT iaitu dengan “HUSNUDZON BILLAH” (Sangka Baik selalu kepada Allah SWT) terhadap apapun yang di takdirkan Alllah SWT baik itu berupa nikmat, bala musibah, pujian, hinaan, dan lainnya.

Friday, July 10, 2015

NDORO MAT AMIT Oleh: KH. A. Mustofa Bisri


Anak-anak kecil sangat takut dengan lelaki itu. Bukan saja karena tubuhnya yang tinggi besar; mukanya yang tak pernah tersenyum, dan bibirnya yang dower, tapi terutama karena kebiasaannya yang aneh. Suka mencaci dengan berteriak kepada siapa saja yang dijumpainya. tak peduli terhadap siapa saja --orang tua, anak-anak, laki-laki, perempuan, orang biasa, tokoh masyarakat-- lelaki yang di kampung kami dipanggil Ndoro Mat Amit itu selalu bersikap kasar. Caci maki baginya seperti salam saja. Setiap ketemu orang, kata-kata pertama yang keluar dari mulutnya adalah caci-maki atau kata-kata tidak jelas maknanya yang rupanya dia maksudkan juga sebagai cacian. Mungkin karena itu, atau mungkin juga karena tak tahu arti ndoro, anak-anak tidak ada yang memanggilnya Ndoro, hanya Mat Amit saja. Semula aku sendiri juga hanya memanggilnya Mat Amit, tapi setelah dimarahi ibuku, aku ikut-ikut orang tua memanggilnya Ndoro.

Tak ada seorang pun yang tahu persis di mana Ndoro Mat Amit tinggal. Orang-orang hanya tahu dia itu bukan penduduk asli, orang dari luar kota, tapi punya banyak kenalan di kota kami. Ada yang bilang dia dipanggil Ndoro karena masih keturunan Nabi. Hanya karena ia sering datang --hampir sebulan sekali, paling lama tiga bulan sekali-- banyak orang yang kemudian mengenalnya.

"Mat Amit! Mat Amit!" begitu teriak anak-anak bila melihat sosok raksasa itu datang. Dan anak-anak yang sedang asyik bermain itu pun buyar; berlarian ke sana kemari seperti gerombolan anak kijang melihat harimau.

Di antara yang sering dikunjungi Ndoro Mat Amit adalah rumah kami. Kalau datang, ia tidak pernah lupa mampir ke rumah. Entah mengapa. Mungkin dia menyukai ayahku yang memang ramah terhadap setiap tamu. Ayah pernah menasihatiku: menghormati tamu itu merupakan anjuran Rasulullah; jadi siapa pun tamu kita, mesti kita hormati. Muslim yang baik ialah yang dapat menundukkan rasa suka dan tidak sukanya demi melaksanakan ajaran Rasulnya.

"Tapi Ndoro Mat Amit sendiri tidak ramah, Yah," selaku, "bahkan menakutkan!"

"Apa yang kau takuti? Dia itu manusia biasa juga seperti kita," kata Ayah menjelaskan. "Dia kan tidak pernah mengigit orang. Orang itu kan macam-macam tabiatnya. Ada yang kasar, ada yang lembut. Ada yang sopan, ada yang tidak. Kita sendiri memang harus berusaha menjadi orang yang lembut dan sopan, tapi kan tidak harus membenci mereka yang belum bisa bersikap begitu. Dan ingat, cung (cung, dari kacung = panggilan untuk anak kecil); penampilan luar orang belum tentu menggambarkan pribadinya, bahkan seringkali kita terkecoh kalau hanya melihat penampilan seseorang. Bukankah sering kita melihat orang yang tampaknya sopan dan halus, ternyata tabiatnya suka menghasut."

Entah karena nasihat Ayah atau mungkin karena sudah terbiasa, akhirnya aku sendiri --tidak seperti banyak kawanku-- tidak begitu takut lagi dengan Ndoro Mat Amit. Memang dulu --dalam kesempatan berkunjung ke rumah-- pernah aku dipanggil Ndoro Mat Amit, tepatnya dibentak, hingga gemetaran.

"Hei, kamu, bajingan, kemari!"

Aku terpaku ketakutan. "Setan kecil! Punya telinga, tidak?" teriaknya lagi. "Aku memanggilmu, Bahlul!"

Aku pun ragu-ragu mendekat dengan kewaspadaan penuh. Pikirku, kalau dia macam-macam, mau mengampar misalnya, aku sudah siap melarikan diri.

Ternyata dia merogoh saku jasnya yang kumal, mengeluarkan beberapa uang receh, dan memberikannya kepadaku. "Ini, buat jajan kamu dan kawan-kawanmu!" katanya kasar.

"Goblok! Terima!" Ragu-ragu aku menerima pemberiannya.

"Lho, apalagi? kurang?" Dia merogoh lagi sakunya dan memberikan lagi uang receh kepadaku. "Sekarang minggat!" teriaknya kemudian mengejutkanku. "Cepat minggat! Monyet kecil!!!" Aku pun berlari meninggalkannyaa. Ngeri, tapi senang juga mendapat uang jajan yang cukup untuk menraktir kawan-kawan ke warung pecel De Karmonah. Ada baiknya juga orang sangar ini.

Sudah menjadi kebiasaan, pada bulan Maulud (Rabi'ul Awwal) Ayah mengadakan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di aula pesantrennya. Dulu acaranya sederhana saja. Tidak ada ceramah-ceramah seperti sekarang. Hanya berzanjenan, membaca syair-syair madah Al-Banzanji-nya Syeikh Ja'far Al-Barzanji, untuk mengenang dan memuji Rasulullah SAW. Orang-orang bergiliran membaca dengan lagu yang berbeda-beda. Ada yang irama dan nadanya seperti lagu India, ada yang seperti lagu Melayu, ada lagu padang pasir, dsb. Bahkan ada yang menembak irama lagu Pengantin Baru. Kalau lagunya agak sulit, orang-orang yang "koor" mengikutinya agak kerepotan juga. Biasanya ada grup rebana yang mengiringi.

Dalam acara semacam ini Ndoro Mat Amit tidak pernah absen hadir dengan pakaian kebesarannya yang khas: sarung plekat, jas yang berkantong besar; peci torbus merah, dan sepatu dengan kaos kaki tebal. Dia kelihatan paling bersemangat menyahuti syair-syair yang dilagukan. Seperti sosoknya, suaranya juga paling menonjol. Keras, sember; dan sumbang; membuat anak-anak muda menahan senyum dan anak-anak kecil cekikikan campur takut. Tidak seperti biasanya, dalam acara seperti itu, Ndoro Mat Amit tidak peduli; dia tetap asyik menyahuti shalawat Nabi dengan serius dan sepenuh hati.

Sampai suatu ketika, pada acara Mauludan seperti itu terjadi peristiwa yang menarik. Pada saat asyraqalan, di mana semua yang hadir berdiri sambil melantunkan shalawat mulai dari Thala'al Badru 'alainaa ... Ndoro Mat Amit tampak menunduk-menunduk sambil menangis meraung-raaung. Sementara di bagian lain terlihat pemandangan yang serupa: Pak Min, kusir dokar yang biasa mengantar Ayah bila bepergian agak jauh, juga menunduk-menunduk sambil menangis, meski tidak sekeras Ndoro Mat Amit. Tentu saja sikap kedua orang itu menarik perhatian sekalian yang hadir. bahkan setelah selesai acara Berzanjenan, pada waktu acara makan bersama, kulihat Ayah mendekati Pak Min dan menanyainya, "Kang Min, tadi waktu asyraqalan aku lihat kamu kok menunduk-nunduk sambil menangis. Mengapa?"

"Lho, apa Kiai nggak pirso tadi itu Kanjeng Nabi rawuh?" Kang Min balas bertanya sambil berbisik.
"Lho, masak iya, Kang Min?" ayah seperti kaget. "Aku kok nggak melihat."
"Kusir samber gelap!" tiba-tiba suara geledek Ndoro Mat Amit menyambar. "Begitu saja ente pamer-pamerkan, Min, Min! Dasar kusir kucing kurap!"
"Siapa yang pamer, Yik (Yik berasal dari Sayyid = panggilan untuk orang Arab di Jawa)?" sahut Pak Min. "Aku kan ditanya Kiai. Memangnya aku mesti diam saja ditanya Kiai?"
"Kusir tengik, tak tahu malu!"
"Kau ini, Yik, yang tak tahu malu!" sergah Pak Min dengan berani, membuat orang-orang tercengang. "Dari dulu nggak capek-capeknya pakai topeng monyet. Sudahlah, Yik, yang wajar-wajar saja! Untuk apa pakai topeng segala! Ente pikir, dengan pakai topeng monyet begitu ente bisa menyembunyikan diri ente? kusir dokar saja tahu siapa ente sebenarnya."
Orang-orang mengira Ndoro Mat Amit akan meradang dan menerkam atau setidaknya menyumpahi Kang Min habis-habisan. Ternyata tidak. Ndoro kita ini malah menunduk dan tak lama kemudian, "Assalaamu 'alaikum!" katanya memberi salam kepada semua, dan --lho!-- ditinggalkannya majlis begitu saja.
Dari kejauhan masih terdengar lamat-lamat umpatannya, "Kusir edan!"
Sejak itu, Ndoro Mat Amit menghilang. Tak pernah lagi datang ke kota kami.
Demikian pula Pak Min. tak lama setelah kepergian Ndoro Mat Amit, Pak Min pamit kepada Ayah dan menyerahkan dokar dan kudanya. Katanya mau pulang ke desanya, tapi setelah itu tak pernah kembali.

"Dua orang itu," kata Ayah saat aku mintai penjelasan, "Sayyid Muhammad Al Hamid --yang dikenal sebagai Ndoro Mat Amit-- dan Kiai Mukmin --yang biasa dipanggil Pak Min atau Kang Min-- sebenarnya sama-sama memakai topeng. Artinya keduanya ingin menyembunyikan diri mereka yang sebenarnya agar tidak dikenali orang. Keduanya ingin tampak awam, bahkan hina, di depan umum. Yang satu dengan berlagak kasar tak tahu sopan; yang satunya lagi bersembunyi dalam pekerjaannya sebagai kusir. Dulu banyak orang saleh yang menyembunyikan diri seperti itu, bahkan ada yang berpura-pura gila. Ada yang melakukan hal itu karena khawatir didekati penguasa; ada yang tak mau kehilangan kenikmatan sebagai hamba yang papa di hadapan Allah; ada juga yang semata-mata karena takut hatinya terserang ujub."

"Tapi, seperti kau ketahui, takdir mempertemukan kedua tokoh bertopeng itu dan tanpa sadar topeng-topeng mereka terlepas. Keistimewaan mereka pun terlihat oleh kita. Kamu lihat waktu berzanjenan itu: dari sekian banyak kiai, tak ada seorang pun yang melihat kehadiran Rasulullah, juga Ayah. Hanya mereka berdua. Itu, Wallahu a'lam, merupakan tanda bahwa hati mereka memang bersih. hanya mereka yang mempunyai hati bersih, yang dapat melihat alam malakut dan roh suci nabi. Ayah yakin mereka berdua tak akan pernah kembali kemari, selamanya. Wali mastur, yang menyembunyikan kesalehannya, selalu menghilang bila ketahuan umum."

Rembang, 3 Ramadan 1423

Monday, February 2, 2015

KEMULIAAN WAJAH RASULULLAH S.A.W DAN WAJAH NABIYULLAH YUSUF As.



Prof.Abuya As Sayyid Muhammad bin 'Alawy Al Maliki r.a.menjelaskan tentang perbedaan wajah Nabiyullah Yusuf As.dgn wajah Nabi Muhammad Saw :
"Sebagaimana dahulu di zaman Nabi Yusuf As.banyak para wanita tergila-gila padanya,bahkan sampai ada yang memotong jari-jarinya karena indahnya melihat wajah Nabiyullah Yusuf As.
Firman Allah ( QS. YUSUF : 31).
"Ketika perempuan-perempuan itu melihatnya,mereka terpesona kepada (keelokan rupanya) dan mereka (tanpa sadar) melukai tanganya sendiri, seraya berkata :"Maha sempurna Allah, ini bukanlah manusia, sungguh ini adalah malaikat yang sempurna".
(QS.Yusuf : 31).
Maka berkatalah Abuya As Sayyid Muhammad bin'Alawi Al Maliki r.a.menukil salah satu riwayat sahabat Nabi Saw,bahwa Allah tidak menampakan keindahan wajah Rasulullah Saw secara keseluruhan di muka bumi ini,hanya satu keindahan saja dari 10 bagian yg diperlihatkan.
"Jika seandainya yg 9 bagian itu ditampakan juga maka orang2 akan mengiris hatinya tanpa terasa karena indahnya wajah Nabi Muhammad Saw."
Nabi Muhammad Saw dan Nabi Yusuf As.Keduanya mendapatkan keistimewaan ketampanan yg masyhur dan luar biasa.
Namun Nabi Muhammad Saw memiliki sebuah kelebihan yg tidak dimiliki oleh Nabi Yusus As yaitu al Haibah al Jalaliyah wa Dlou-un Nuroniyah.
Haibah yg tidak dimiliki oleh Nabi Yusuf As ini membuat ketampananya menghipnotis para wanita dan di gandrungi banyak orang.
Haibah yg tidak dimiliki Nabi Yusuf As ini juga menyebabkan kakak-kakaknya mendengki padanya dan berusaha mencelakainya.
al-Haibah al Jalaliyah yg dimiliki Nabi Muhammad Saw menjadikan kewibawaanya lebih mendominasi daripada ketampananya,hingga tak seorangpun wanita berani menatapnya karena rasa hormat kepadanya,apalagi tergila-gila seperti yg dilakukan tuan putri Zulaiha pada Nabi Yusuf As.
Rasulullah Saw juga memiliki Dlou-un Nuroniyah (Cahaya yang menerangi)
Di kisahkan suatu saat istri Nabi Muhammad Saw menjahit baju,tiba-tiba lampunya mati,karena saking terkejutnya jarum yg di gunakan menjahit itu terlempar entah kemana.
Ketika Nabi Muhammad Saw keluar dan bertanya padanya "Ada apakah gerangan..?"
Seketika itu isteri Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam melihat Cahaya dari tubuh Nabi shallallahu'alaihi wasallam hingga jarum yg terlempar itu bisa terlihat.
Al Imam Ghazali, menjelaskan dalam "Ihya Ulum-Id-Din : "Rasulullah Saw, memiliki jasmani yg tampan,sebagian para sahabat menyatakan senyuman beliau seindah Bulan Purnama.
Hidung tipis,wajahnya halus,janggutnya tebal,lehernya indah,jika cahaya matahari menyinari lehernya,hal itu tampak campuran antara perak dan emas,bagian antara pundaknya begitu lebar."
Sayydina Ibrahim bin Muhammad Ra
Berkata : "Ketika Sayydina Ali bin abi Thalib krw menggambarkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam,ia berkata,"Beliau Saw tidak terlalu tinggi atau pendek,melainkan seorang pria yg tinggi sedang.
Rambut beliau tidaklah keriting ataupun bergelombang namun paduan daripadanya.Kulit beliau agak putih kemerahan,beliau memiliki bagian mata yg hitam dan bulu mata yang panjang,beliau memiliki bagian yg menonjol dari tulang belikatnya.
Diantara pundak beliau terdapat tanda kenabian,beliau memiliki dada yg paling sempurna di banding orang lain.Beliau memiliki perangai yg lemah lembut dan silsilah yg paling mulia.
mereka yg melihatnya langsung berdiri dengan perasaan kagum kepadanya dan mereka yg berkenalan langsung mencintainya, mereka menggambarkan beliau mengatakan bahwa belum pernah melihat seorangpun seperti beliau dulu ataupun setelahnya."
Sayydina Hasan Ra.berkata :"Beliau memiliki kualitas dan penampilan yg sempurna, yg lain juga menghargainya begitu tinggi wajahnya yg penuh berkah bersinar seperti bulan purnama.Beliau lebih tinggi daripada pria yg tinggi.Rambutnya Saw ikal,jika rambutnya terbelah tanpa sengaja,beliau akan membiarkanya saja,kalau tidak,maka beliau tidak membuatnya menjadi terbelah di tengah.Rasulullah Saw memiliki corak kulit yg berkilauan dan dahi yg lebar.Alis beliau begitu tebal dan rapi,leher beliau begitu indah dan tipis,seperti patung yg terpahat dgn rapi,warna kulitnya begitu jelas,bersinar dan indah laksana perak.Seluruh bagian tubuhnya memiliki ukuran yang sempurna.Tubuh beliau tersusun dgn sempurnanya."
Kelak wajah itu akan diperlihatkan kepada umat manusia di Telaga Haudh,di hari kiamat.
Semoga kita di izinkan memandang wajah yang indah itu.
Aamiin ya Robbal Aalamiin.
Allahumma sholli wa shallim wa baarik alaa Sayydina Muhammad wa alaa alihi wa shohbih.

Friday, May 23, 2014

Karomah Kiai Kholil Bangkalan: Pencuri Timun Tidak Bisa Duduk



Pada suatu hari petani timun di Daerah Bangkalan sering mengeluh. Setiap timun yang siap dipanen selalu kedahuluan dicuri maling. Begitu peristiwa itu terus-menerus terjadi. Kejadian yang memilukan ini membuat petani timun tidak sabar lagi. Setelah bermusyawarah sesama petani, maka diputuskan untuk sowan ke Kiai Khalil.

Sesampainya di rumah kiai, sebagaimana biasanya kiai sedang mengajarkan kitab nahwu. Kitab tersebut bernama Jurmiyah, suatu kitab tata bahasa arab tingkat pemula. "Assalamu'alaikum Kiai, "ucapan para petani serentak. "Waalaikum salam," jawab Kiai Khalil. Melihat banyaknya petani yang datang, kiai bertanya,"Sampean ada keperluan, ya ... ". "Benar, Kiai. Akhir-akhir ini, ladang timun kami selalu dicuri maling. Kami mohon kepada Kiai untuk penangkalnya," kata petani dengan nada memohon penuh harap.

Saat itu kitab yang dikaji oleh kiai sampai kepada kalimat Qoma Zaidun yang artinya Zaid telah berdiri. Beberapa saat tampak hening. Tiba­tiba Kiai Khalil berbicara, sambil menunjuk kepada huruf Qoma Zaidun. "Ya karena pengajian ini sampai kepada Qoma Zaidun, ya ..... Qama Zaidun ini saja dipakai sebagai penangkalnya" seru Kiai Khalil dengan tegas dan mantap. "Sudah Kiai ?" ujar para petani sedikit tampak ragu. "Ya .... Sudah," jawab Kiai Kholil menandaskan. Merasa puas dapat penangkal dari kiai Khalil para petanipun pulang ke rumah masing-masing.

Keesokan harinya, seperti biasa para petani pergi ke sawah. Namun betapa terkejutnya sesampainya petani di ladang masing-masing. Dihadapannya sejumlah maling timun tegak berdiri mematung, mereka terus-menerus berdiri dan tidak dapat duduk. Tak ayal lagi, semua maling timun yang merajalela selama ini dapat diketahui dan ditangkap.

Lama kelamaan, berita tertangkapnya maling yang tidak bisa duduk ini tersebar luas. Sungguhpun pencuri telah tertangkap namun masih tetap berdiri. Beberapa orang berupaya untuk mendudukkan namun sia-sia belaka. Maling timun tetap berdiri dengan muka pucat pasi, sementara orang yang menonton semakin lama-semakin banyak. Merasa kualahan menga tasi, akhirnya para petani memutuskan untuk sowan ke Kiai Khalil lagi. Sama seperti ketika datang pertama kali, setelah berbincang-bincang sejenak Kiai Kholil memberi segelas air penangkal. Setelah para petani mendapat air penangkal segera pamit lalu pulang. Air pernangkal lalu di percikkan kepada maling yang tidak bisa duduk. Sungguh luar biasa, hanya sekali percik sernua pencuri jatuh terduduk lunglai di tanah. Dengan suara iba semua pencuri minta ampun dan mengakui kesalahannya. Mereka berjanji tidak akan mencuri lagi.

Maka sejak kejadian itu, tidak pernah terjadi pencurian timun lagi. Para petani bersyukur karena ladangnya menjadi aman. Sebagai rasa terima kasih kepada Kiai Khalil, para petani sepakat menyerahkan hasil panenan timun ke pesantren. Berdokar-dokar timun mendatangi pesantren. Sejak itu, para santri kebanjiran timun, seluruh pojok pesantren dipenuhi dengan timun.

Wallahu`alam

KETIKA TELINGA KITA BERDENGING


Siapakah yang pernah mengalami berdengungnya telinga? 

Berbahagialah bila kita pernah mengalaminya ,kenapa karena sayyidina Muhammad shalallahu alaihi wasallam telah bersabda :

“ jika berdenging telinga kalian, hendaknya ia ingat padaku, lalu bershalawat padaku, dan berdoa : wahai Allah jadikanlah orang yg mengingatku itu dg kebaikan 

(Al Adzkar oleh Hujjatul Islam Al Imam Nawawi)

Didoakan oleh Sayyidina Muhammad shalallahu alaihi wasallam dengan do`a yang agung : “Wahai Allah jadikanlah orang yang mengingatku itu dengan kebaikan”.

Al Imam Nawawi rhm berkata :”Sesungguhnya jika telinga berdengung datang berita baik ke ruh.

Dan sayyidina Muhammad shalallahu alaihi wasallam telah menyebutkan orang yang telinganya berdengung dengan kebaikan-kebaikan di sebuah majlis yang agung di alam ruh.

Jika sayyidina Muhammad shalallahu alaihi wasallam menyebutkan kebaikan orang tersebut menunjukkan bahwa orang tersebut masuk dalam golongan orang baik (min ahlilkhair)

Lalu apa balasannya bila anugerah Allah yang sangat luhur ini kita dapatkan?

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam menginginkan pemilik telinga berdengung tersebut untuk mengingat beliau, bersholawat kepada beliau shalallahu alaihi wasallam.

kok Rasulullah shalallahu alaihi wasallam meminta imbalan? Tidak , sholawat kepada beliau kembali kepada si pemilik telinga berdengung, Allah limpahkan anugerah yang besar.

Itulah jiwa sayyidina muhammad shalallahu alaihi wasallam sangat menginginkan agar umatnya dekat dengan Allah Jalla jalaluh .

Tanpa si pemilik telinga berdengung mengingat dan bersholawat pun, sayyidina muhammad shalallahu alaihi wasallam tetap Agung dan tertinggi derajatnya di sisi Allah

Wallahu`alam

ANJING HITAM & WALI AGUNG



Syahdan, pada zaman dahulu, ada seorang kiai besar yang sangat dihormati. Orang-orang di sekitarnya memanggilnya Kiai Yazid, lengkapnya Kiai Abu Yazid Thoyfur bin ‘Isa al-Bustami dari Bustham, daerah Bagian Timur Laut Persia. Salah satu fragmen hidup beliau di bawah ini setidaknya bisa sekilas menjadi renungan pengasah ketawadhu’an bagi kita.

Pada suatu hari, Kiai Yazid sedang menyusuri sebuah jalan. Ia sendirian. Tak seorang santri pun diajaknya. Ia memang sedang menuruti kemauan langkah kakinya berpijak; tak tahu ke mana arah tujuan dengan pasti. Ia mengalir begitu saja. Maka dengan enjoy-nya ia berjalan di jalan yang lengang nan sepi.

Tiba-tiba dari arah depan ada seekor anjing hitam berlari-lari. Kiai Yazid merasa tenang-tenang saja, tak terpikirkan bahwa anjing itu akan mendekatnya. Eh1? Ternyata tahu-tahu sudah dekat; di sampingnya. Melihat itu Kiai Yazid –secara reflek dan spontan– segera mengangkat jubah kebesarannya. Tindakan tadi begitu cepatnya dan tidak jelas apakah karena -barangkali– merasa khawatir: jangan-jangan nanti bersentuhan dengan anjing yang liurnya najis itu!

Tapi, betapa kagetnya Sang Kiai begitu ia mendengar Si Anjing Hitam yang di dekatnya tadi memprotes:

“Tubuhku kering dan aku tidak melakukan kesalahan apa-apa!”

Mendengar suara Si Anjing Hitam seperti itu, Kiai Yazid masih terbengong: benarkah ia bicara padanya?! Ataukah itu hanya perasaan dan ilusinya semata? Sang Kiai masih terdiam dengan renungan-renungannya.

Belum sempat bicara, Si Anjing Hitam meneruskan celotehnya: “Seandainya tubuhku basah, engkau cukup mencucinya dengan air yang bercampur tanah tujuh kali, maka selesailah persoalan di antara kita. Tetapi apabila engkau menyingsingkan jubah sebagai seorang Parsi (kesombonganmu), dirimu tidak akan menjadi bersih walau engkau membasuhnya dengan tujuh samudera sekalipun!”

Setelah yakin bahwa suara tadi benar-benar suara Si Anjing Hitam di dekatnya, Kiai Yazid baru menyadari kekhilafannya. Secara spontan pula, ia bisa merasakan kekecewaan dan keluh kesah Si Anjing Hitam yang merasa terhina. Ia juga menyadari bahwa telah melakukan kesalahan besar; ia telah menghina sesama makhluk Tuhan tanpa alasan yang jelas.

“Ya, engkau benar Anjing Hitam,” kata Kiai Yazid, “Engkau memang kotor secara lahiriah, tetapi aku kotor secara batiniah. Karena itu, marilah kita berteman dan bersama-sama berusaha agar kita berdua menjadi bersih!”

Ungkapan Kiai Yazid tadi, tentu saja, merupakan ungkapan rayuan agar Si Anjing Hitam mau memaafkan kesalahannya. Jikalau binatang tadi mau berteman dengannya, tentu dengan suka rela ia mau memaafkan kesalahannya itu.

“Engkau tidak pantas untuk berjalan bersama-sama denganku dan menjadi sahabatku! Sebab, semua orang menolak kehadiranku dan menyambut kehadiranmu. Siapa pun yang bertemu denganku akan melempariku dengan batu, tetapi Siapa pun yang bertemu denganmu akan menyambutmu sebagai raja di antara para sufi. Aku tidak pernah menyimpan sepotong tulang pun, tetapi engkau memiliki sekarung gandum untuk makanan esok hari!” kata Si Anjing Hitam dengan tenang.

Kiai Yazid masih termenung dengan kesalahannya pada Si Anjing Hitam. Setelah dilihatnya, ternyata Si Anjing Hitam telah meninggalkannya sendirian di jalanan yang sepi itu. Si Anjing Hitam telah pergi dengan bekas ucapannya yang menyayat hati Sang Kiai.

“Ya Allah, aku tidak pantas bersahabat dan berjalan bersama seekor anjing milik-Mu! Lantas, bagaimana aku dapat berjalan bersama-Mu Yang Abadi dan Kekal? Maha Besar Allah yang telah memberi pengajaran kepada yang termulia di antara makhluk-Mu yang terhina di antara semuanya!” seru Kiai Yazid kepada Tuhannya di tempat yang sepi itu.

Kemudian, Kiai Yazid dengan langkah yang sempoyongan meneruskan perjalanannya. Ia melangkahkan kakinya menuju ke pesantrennya. Ia sudah rindu kepada para santri yang menunggu pengajarannya.

Di hari lain, Kiai Yazid sedang mengajak berjalan-jalan dengan beberapa orang muridnya. Jalan yang sedang mereka lalui sempit dan dari arah yang berlawanan datanglah seekor anjing. Setelah diamati secara seksama, ternyata ia bukanlah Si Anjing Hitam yang dulu pernah memprotesnya. Ia Si Anjing Kuning yang lebih jelek dari Si Anjing Hitam. Begitu melihat Si Anjing Kuning tadi terlihat tergesa-gesa –barangkali karena ada urusan penting– maka Kiai Yazid segera saja mengomando kepada para muridnya agar memberi jalan kepada Si Anjing Kuning itu.

“Hai murid-muridku, semuanya minggirlah, jangan ada yang mengganggu Si Anjing Kuning yang mau lewat itu! Berilah dia jalan, karena sesungguhnya ia ada suatu keperluan yang penting hingga ia berlari dengan tergesa-gesa,” kata Kiai Yazid kepada para muridnya.

Para muridnya pun tunduk-patuh kepada perintah Sang Kiai. Setelah itu, Si Anjing Kuning melewati di depan Kiai Yazid dan para santrinya dengan tenang, tidak merasa terganggu. Secara sepintas, Si Anjing Kuning memberikan hormatnya kepada Kiai Yazid dengan menganggukkan kepalanya sebagai ungkapan rasa terima kasih. Maklum, jalanan yang sedang dilewati itu memang sangat sempit, sehingga harus ada yang mengalah salah satu; rombongan Kiai Yazid ataukah Si Anjing Kuning.

Si Anjing Kuning telah berlalu. Tetapi rupanya ada salah seorang murid Kiai Yazid yang memprotes tindakan gurunya dan berkata: “Allah Yang Maha Besar telah memuliakan manusia di atas segala makhluk-makhluk-Nya. Sementara, kiai adalah raja di antara kaum sufi, tetapi dengan ketinggian martabatnya itu beserta murid-muridnya yang taat masih memberi jalan kepada seekor anjing jelek tadi. Apakah pantas perbuatan seperti itu?!”

Kiai Yazid menjawab: “Anak muda, anjing tadi secara diam-diam telah berkata kepadaku: “Apakah dosaku dan apakah pahalamu pada awal kejadian dulu sehingga aku berpakaian kulit anjing dan engkau mengenakan jubah kehormatan sebagai raja di antara para kaum sufi?” Begitulah yang sampai ke dalam pikiranku dan karena itulah aku memberikan jalan kepadanya.”

Mendengar penjelasan Kiai Yazid seperti itu, murid-muridnya manggut-manggut. Itu merupakan pertanda bahwa mereka paham mengapa guru mereka berlaku demikian. Semuanya diam membisu. Tidak ada yang membantah dan terus meneruskan perjalanannya.

Saturday, April 12, 2014

MENGENAL PERJALANAN HIDUP PARA SHOLIHIN

Kalam Al-Allamah Al-Habib Ahmad bin Abubakar Bin Sumaith

Sesungguhnya dari yang paling bermanfaatnya ilmu dan yang paling membekasnya ilmu di hati adalah mengenal perjalanan hidup dari para auliya, kaum sholihin dan para ulama yang mengamalkan ilmunya, agar supaya seseorang itu dapat mensuri-tauladani mereka bagaimana mereka dapat membagi waktu-waktunya dengan berbagai macam ibadah, dan bagaimana dapat berakhlak dengan akhlak-akhlak mereka yang mulia sesuai dengan sunnah karena mereka itu adalah penyeru kepada Allah dengan perkataan dan perbuatan mereka. Selain itu pula supaya dengan itu semua dapat menumbuhkan sikap berbaik sangka kepada mereka dan rasa cinta yang dapat mengantarkan kepada keutamaan yang agung.

Di dalam hadits Rasulullah saw yang berbunyi, “Seseorang itu bersama dengan orang yang ia cintai,” dan di dalam sikap untuk mencontoh apa yang ada pada mereka dari ilmu, amal dan keadaan, terdapat targhib (rasa senang menggebu-gebu) dan tasywiq (rasa cinta) untuk mendapatkan keutamaan-keutamaan. Sesungguhnya seorang mukmin itu sangat berminat untuk mendapatkan kesempurnaan. Ketika ini sudah menguat, maka seseorang itu akan menyibukkan diri dengan membaca perjalanan hidup orang-orang yang terdahulu, dan menaruh perhatian kepada orang-orang yang menjaga agama dan para ulama yang ‘arif, serta mengetahui keutamaan-keutamaan mereka. Bahkan, mengingat mereka itu termasuk suatu usaha untuk memenuhi hak-hak mereka, dan hal itu termasuk perbuatan berbakti (kepada mereka) sesuai dengan apa yang diniatkan. Sebagaimana dikatakan (di dalam hadits, pent.),

“Setiap orang itu sesuai dengan apa yang diniatkan.”

Dan sungguh Allah itu mewajibkan atas hamba-hambaNya yang mukmin untuk meminta di dalam shalat yang merupakan tiang agama agar dapat menunjukkan mereka kepada jalan orang-orang yang diberikan kenikmatan kepada mereka dari para Nabi, shiddiqin, syuhada’ dan sholihin. Maka dari hal itu, sesungguhnya meminta petunjuk itu kepada jalan para ulama dan auliya yang mana mereka menyeru kepada Allah dengan perkataan dan perbuatan mereka, adalah termasuk tanda kebahagiaan dunia dan ahirat. Ini dikarenakan mereka itu adalah para kepercayaan Allah di muka bumi. Sebagaimana firman Allah Ta’ala kepada NabiNya saw,

“Dan semua kisah dari para rasul Kami kisahkan kepadamu apa-apa yang dengannya Kami dapat meneguhkan hatimu, dan telah datang kepadamu dalam hal ini kebenaran, nasehat dan peringatan kepada orang-orang yang beriman.” (QS. Hud: 120)

Ini merupakan suatu isyarat untuk mengetahui kabar-kabar dari orang-orang yang terdahulu, terutama dari segolongan manusia dari umat ini yang diberikan kekhususan kepada mereka dengan hikmah dan mutiara kalam. Dengan demikian seseorang itu dapat mengambil nasehat-nasehat mereka, hal-hal yang dapat menambah keyakinan dan ketenangan hati, ketetapan jiwa untuk sabar menjalankan ketaatan dan perbuatan baik, berpegang teguh pada ahli agama, penerangan pandangan dan melihat apa yang tampak pada mereka dari makna dan rahasia kalam Allah Ta’ala dan NabiNya al-mukhtar. Berkata pemuka sufi Al-Junaid rhm,

“Cerita-cerita (tentang para sholihin) itu adalah pasukan dari pasukan-pasukan Allah Ta’ala yang dengannya hati para muriidin (orang-orang ingin mengambil manfaat) itu dapat menjadi teguh.”

IMAM HASAN BASHRI DAN GADIS KECIL



SORE itu Hasan Bashri, seorang tabi’in terkemuka, sedang duduk di teras rumahnya. Tak lama kemudian lewat iringan jenazah dengan rombongan pelayat dibelakangnya. Dibawah keranda yang diusung, berjalan seorang gadis kecil sambil terisak-isak. Ia adalah putri orang yang sedang meninggal itu.

Keesokan harinya, usai salat subuh, gadis kecil itu bergegas lagi ke makam ayahnya. Hasan Bashri mengikutinya sampai ke makam. Ia bersembunyi dibalik pohon, mengamati gerak-gerik gadis kecil itu secara diam-diam. Gadis kecil itu berjongkok di depan gundukan makam. Ia menempelkan pipinya ke atas gundukan tanah. Sejurus kemudian, ia meratap dengan kata-kata yang terdengar jelas oleh Hasan Bashri.

“Ayah, bagaimana keadaanmu tinggal sendirian dalam kubur yang gelap gulita tanpa pelita dan pelipur? Ayah,kemarin malam aku nyalakan lampu untukmu, semalam siapa yg menyalakannya untukmu?
Kemarin masih kubentangkan tikar, kini siapa yang melakukannya?
Ayah, kemarin malam aku masih memijat kaki dan tanganmu, siapa memijatmu semalam? Ayah, kemarin aku memberimu minum, siapa yg memberi minum tadi malam kepadamu?
Kemarin malam aku membalikkan badanmu dari sisi yg satu ke sisi yang lain agar engkau merasa nyaman, siapa yang melakukannya untukmu semalam?”
Mendengar rintihan gadis kecil itu, Hasan Bashri tak kuasa menahan tangis. Ia keluar dari tempat persembunyiannya, lalu menyambut kata-kata gadis kecil itu.

“Hai gadis kecil! Jangan berkata seperti itu, tetapi, ucapkanlah, ‘Ayah, kuhadapkan engkau ke arah kiblat, apakah engkau masih seperti itu atau telah berubah?.
Ayah, kami kafani kau dengan kain terbaik, masih utuhkah kain kafan itu?
Ulama mengatakan bahwa hamba yang mati ditanya imannya. Ada yang menjawab dan ada yg tidak.
Bagaimana dengan ayah? Apakah engkaku bisa mempertanggungjawabkan imannmu, ayah? Ataukah engkau tak berdaya?
Ulama mengatakan, kubur sebagai taman surga atau jurang menuju neraka. Kubur kadang membelai orang mati seperti kasih ibu, atau kadang menghimpitnya seperti tulang belulang berserakan. Apakah engkau dibelai atau dihimpit ayah?
Kata ulama, orang yg dikebumikan menyesal, mengapa tak memperbanyak amal baik. Orang ingkar menyesal dengan tumpukan maksiatnya. Apakah engkau menyesal karena kejelekan mu ataukah karena amal baikmu sedikit, Ayah?
Ayah, engkau sudah tiada. Aku sudah tak bisa menemuimu lagi hingga hari kiyamat nanti. Wahai Allah, janganlah Engkaku rintangi pertemuanku dengan ayahku di akhirat nanti.”

Gadis kecil itu menengok kepada Hasan Bashri seraya berkata, “Betapa indah ratapanmu kepada ayaku, betapa baik bimbingan yang telah kuterima, engkau ingatkan aku dari lelap lalai.”
Kemudian Hasan Bashri dan gadis kecil itu meninggalkan makam. Mereka pulang sembari berderai tangis.

Monday, March 24, 2014

NASEHAT AL HABIB SALIM ASSATIRI SAAT RIHLAH DI SURABAYA


Seorang ulama masyhur dari yaman hadramaut yaitu Al Habib Salim Assatiri rihlah di Surabaya tepatnya di daerah ampel jalan margi di rumah Al Habib Husein bin Abdullah Assegaf. Sudah tradisi para ulama timur tengah tiap bulan muharrom dan syaban mereka selalu keliling dunia ke Negara-negara untuk berkunjung dan ziarah ke para auliya di dunia.

Dalam kunjungannya di rumah Habib Husein Assegaf , Habib Salim memberikan mauidoh hasanah kepada para jaah yang hadir dalam majlis barokah tersebut. Beliau ceramah dengan bahasa arab yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Al Habib taufik Assegaf.

Dalam ceramahnya, beliau mengucapkan syukur pada Allah atas dikumpulkannya kita di rumah barokah, rumah yang didirikan majlis dirian Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf yang diteruskan oleh Al Habib Husein bin Abdullah Assegaf. Beliau berkata bahwa para keturunan orang sholeh jika mengikuti jejak orang sholeh maka kemuliaan tersebut adalah kemuliaan besar. Ibarat menggali sumur di dekat sumur bagi mereka para keturunan orang-orang sholeh dalam mengikuti jejak salafunassholih menuntut ilmu agama mencari rahmat Allah SWT. Lain dengan orang-orang yang bukan keturunan para salafunassholih, mengikuti jejak salafunassholih tak gampang. Seperti menggali sumur yang jauh dari sumbernya yang sulit untuk mendapatkan air. Tapi lain dengan mereka yang mencintai para salafunassholih, kesulitan tersebut akan hilang dan menjadikan mereka mudah mengikuti jejak salafunassholih sama seperi para ahlul bait keturunan orang-orang sholih. Mencintai Ahlul Bait akan mendapatkan seperti apa yang didapatkan para Ahlul Bait yaitu kemuliaan di sisi Allah dan Rasulullah.

Dalam agama, anak cucu adam dibagi menjadi 3(tiga) yaitu Waladun Sabiq, Waladun Lahiq, dan waladun mahiq. Waladun sabiq ialah orang-orang yang mengungguli orang tua mereka dalam beragama contohnya seperti Al Habib Abullah bin Alwi Al Haddad sohibul Rotib. Waladun Lahiq adalah anak yang mengikuti, meneruskan jejak orang tua mereka dalam beragama. Dalam pepatah arab dikatakan bahwa, “ Orang yang yang beriman dan mengikuti jejak mereka salafunassholih maka akan digabungkan satu kelompok dengan salafunassholih.” Jangan sampai kita menjadi waladun mahiq! Yaitu anak yang keluar dari toriqoh orang tua mereka. Jika itu terjadi maka kerugian yang didapat yaitu terganggu pikirannya, mati dalam usia muda, dan sengsara hidupnya. Naudzubillah min dzalik. Al Habib Salim juga berkata dalam ceramahnya yaitu orang yang keluar dari toriqoh salaf maka akan dibenci oleh mereka para salafunassholih. Zaman sekarang begitu mudahnya orang melakukan maksiat kecuali orang-orang yang dekat pada Allah.

Beliau Al Habib Salim Assatiri juga berpesan kepada para pemuda sekarang. Jadilah pemuda yang mengikuti jejak para salafunassholih yang mencintai salafunassholih dan selalu dekat pada ahlul bait. Allah membanggakan pemuda yang sholih, taat pada Allah, mengikuti jeja Rasulullah dan salafunassholih. Jangan jadi pemuda yang hidup bergelimang maksiat. Hidup di dunia hanya sementara. Jaga diri dari perbuatan maksiat dan bewrkumpulah pada orang-orang sholeh. Hati-hatilah kamu pada orang-orang yang berbeda aliran, toriqoh, kelakuan yang tidak mencerminkan akhlak Rasulullah dan para Salafunassholih karena itu membuat kita rusak dan keluar dari toriqoh para salafunassholih. Dalam penutup ceramah Al Habib Salim Assatiri beliau berdoa mudah-mudahan kita semua menjadi orang-orang yang baik terjaga dari kesesatan.

BANGSA INDONESIA ADALAH BANGSA YANG DICINTAI RASULULLAH SAW.


Tatkala Prof. DR. Al-Muhaddits As-Sayyid Muhammad Bin Alwi Al-Maliki bersama rombongan ulama lainnya pergi berziarah ke Makam Rasulullah Saw., tiba-tiba beliau diberikan kasyaf (tersingkapnya hijab) oleh Allah Swt. dapat jumpa dengan Nabi Saw. Di belakang Nabi Muhammad Saw. sangat banyak orang yang berkerumunan. Ketika ditanya oleh As-Sayyid Muhammad Al-Maliki: “Ya Rasulullah, siapakah orang-orang itu?”

Rasulullah Saw. pun menjawab: “Mereka adalah ummatku yang sangat aku cintai.”

Dan diantara sekumpulan orang yang banyak itu ada sebagian kelompok yang sangat banyak jumlahnya. Lalu As-Sayyid Muhammad al-Maliki bertanya lagi: “Ya Rasulullah, siapakah mereka yang berkelompok sangat banyak itu?”

Rasulullah Saw. kemudian menjawab: “Mereka adalah Bangsa Indonesia yang sangat banyak mencintaiku dan aku mencintai mereka.”

Akhirnya As-Sayyid Muhammad Al-Maliki menangis terharu dan terkejut. Lalu beliau keluar dan bertanya kepada jamaah: “Mana orang Indonesia? Aku sangat cinta kepada Indonesia.”

(Dikutip dari ceramah Syaikh KH. Muhyiddin Abdul Qadir al-Manafi).

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سيّدنامُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ سيّدنا مُحَمَّدٍ

Wednesday, March 5, 2014

AL HABIB SALIM BIN JINDAN DAN PATUNG BUNDA MARIA YANG BERADA DI PEKARANGAN RUMAHNYA.



Suatu ketika Habib Salim bin Jindan membawa Patung Bunda Maria dan diletakkan di pekarangan rumahnya, Hal tersebut terasa aneh bagi sebagaian masyarakat maupun para ulama waktu itu, Bahkan pernah juga salah seorang ulama mendatangi rumah Habib Salim Jindan untuk menanyakan kenapa Patung Bunda Maria diletakakan di Pekarangan Rumahnya dan merasa bahwa Habib Salim telah murtad , namun dengan ketenangan Habib Salim menyuruh Ulama yang marah tersebut untuk mengaji dan mempedalam ilmu agama baru nanti datang lagi kembali. Dengan Rasa penasaran dan keheranan pergilah sang ulama tersebut dari Rumah Habib Salim Jindan.

Belakangan Diketahui Bahwa Habib Salim Jindan memang sengaja menaruh patung Bunda Maria di pekarangan rumahnya agar dapat terlihat oleh orang-orang Nasrani yang pulang dari Gereja yang kebetulan berseberangan dengan Rumah Habib salim Jindan, Patung itu akan tetap disitu agar mereka sadar bahwa apa yang mereka sembah selama ini hanyalah sebuah patung yang tidak bisa berbuat banyak, Patung itu tidak bisa membela dan menyelamatkan dirinya bagaimana mungkin bisa membela dan menyelamatkan umat Nasrani.Patung itu kepanasan, kehujanan tanpa bisa berbuat apa-apa kalau tidak dipindahkan oleh pemiliknya. Ini berarti bunda maria yang selama ini mereka sembah hanya sebatas benda mati.


Dan ternyata banyak dari mereka orang Nasrani yang sering melintas didepan Rumah Habib Salim Jindan sadar bahwa mereka selama ini hanya menyembah patung yang tidak bisa berbuat banyak yang akhirnya mereka memeluk Agama Islam.

Inilah adalah salah satu Metode Dakwah yang dilakukan Habib Salim Jindan yang menurut sebagain orang tidak Lazim. Namun ketokohan dan keilmuan yang dalam tentang Agama Alloh membuat sebagian ulama dan masyarakat dapat memahami hal tersebut. Bahkan Pernah suatu ketika seorang pendeta mendatangi Habib Salim Jindan untuk melakukan dialog. ” Habib saya mau tanya yang lebih mulia itu orang yang masih hidup atau orang yang sudah mati”?? Tanya Pendeta kepada habib Salim . “Semua orang akan menjawab Bahwa orang yang masih hidup itu lebih mulia dari pada orang yang sudah mati, sebab orang yang sudah mati sudah menjadi bangkai ” Jawab Habib Salim Zindan. Lalu dengan pertanyaan menggurui Pendeta itu membalasnya ” Kalau begitu Nabi Isya Yesus kristus lebih mulia dari pada Nabi Muhammad , karena Muhammad nabi anda telah meninggal, sedangkan Nabi Isya Menurut keyakinan Anda Masih hidup hingga sekarang”!!!! , Habib Jindan tak mau kalah dengan Tutur bahasa yang sangat diplomatishabib Salim menjawab”" Kalau begitu ibu saya lebih mulia dibandingkan dengan Bunda Maryam, sebab Bunda Maryam sudah meninggal sedangkan ibu saya masih hidup dan sekarang sedang memasak di dapur”" Mendengar jawab enteng dari Habib Salim Jindan , sang pendeta pun diam seribu bahasa lalu pergi.
Nama lengkap beliau Habib salim bin Ahmad bin Husain bin Saleh bin Abdulloh bin Umar bin Abdulloh bin Zindan lahir di Surabaya pada hari jumat tgl 07 september 1906, Sejak kecil Habib Salim Zindan mendapat pendidikan agama dari Ayahnya yang juga memang seorang Ulama Habib Ahmad Zindan, kecerdasan dan bakat yang dimilki Habib Salim Zindan sehingga dalam usia yang relatif muda mampu memnguasai beberapa fan ilmu. Tak cukup itu saja Habib Salim zindan melakukan pengembaraan keberbagai Ulama-ulama terkemuka untuk menimba ilmu seperti Habib Abdul Qodir bilfaqih ( pendiri pon-pes Darul Hadist Al Faqihiyyah Malang), Habib Abdulloh bin Musin ( Empang bogor), Habib Muhammad Muhdor(bondowoso), Habib Abu bakar Assegaf (gresik) , Kh Muhammad Kholil ( madura) dan masih banyak lagi Para Ulama dan Habaib yang beliau kunjungi untuk menuntut ilmu dan Mengambil keberkahan dari beliau.

Maka tak heran di Usia 19 tahun habib Salim Jindan telah menguasai berbagai ilmu agama terutama Ilmu Hadist maka beliau mendapat predikat sebagai Muhaddist dan Musnid , sejak itu pula beliau memulai Dakwahnya keberbagai daerah. Mengajak umat untuk istiqomah dalam menjalankan Perintah Alloh dan menjauhkan larangan Alloh. Disamping itu pula habib Salim selalu mengajak bangsa Indonesia umat islam khususnya untuk bangkit menentang segala bentuk Impreliasme baik penjahan Belanda maupun Jepang. Ceramah Beliau mampu mengobarkan semangat membara untuk melawan penjajahan, maka tak heran Pihak penjajah dibuat kalang kabut oleh aksi-aksi pejuang yang begitu semangat siap untuk mati dalam melawan pihak penjajah. Habib Salim sempat di tangkap Jepang dan di jebloskan ke penjara .

Sekitar tahun 1940 Habib Salim Hijarh ke jakarta dan bersama sama para ulama dan Habaib gencar melakukan dakwah islam , diantaranya adalh Habib Ali alatas Bungur dan Habib Ali Al habsyi Kwitang. Trio Habib betawi tersebut sangat dihormati baik oleh masyarakat maupun oleh para ulama kerena ketinggian ilmu yang dimiliki oleh ketiga Habib tersebut, bahkan banyak para Ulama dan Habaib yang berguru kepadanya.salah satunya Adalah almarhum Muallim KH Syafi’i Hadzami .

Habib Salim Jindan Wafat di jakarta 01 juni 1969 dan dimaqomkan di Komplek pemakaman Al hawi Condet Jakarta, beliau meninggalkan anak dan cucunya yang mampu meneruskan perjuangannya dalam mensyiarkan Agama Alloh dengan istiqomah.

Monday, November 4, 2013

KALAM HABIB HASAN BIN SHOLEH AL BAHAR

seorang wali yang ilmunya ibarat lautan tak bertepi berikut ini. Beliau adalah Habib Hasan bin Sholeh al-Bahar, seorang yang berada di puncak kemakrifatan di masanya, sekitar seratus lima puluh tahun silam.

Ketahuilah wahai saudaraku, semoga Allah menjadikanku dan kamu semua sebagai insan yang asyik mendengar ucapan-ucapan dan sanggup menjelmakan isi ucapan itu dalam laku. Sesungguhnya majelis kheir adalah bursa pahala, bahkan ia adalah ladang surga, seperti pernah diterangkan dalam sebuah sabda Rasul. Karena itu, cermati diri tatkala memasuki bursa itu, jangan sampai keluar dalam keadaan merugi, tak membawa apa-apa.

Buah dari majelis kheir adalah ilmu, dan kenikmatannya akan kita rasakan tatkala kita mengamalkan dan membagikannya kepada mereka yang belum mengerti. Adapun puncak dari segala fadhilah majelis itu adalah derajat tinggi di alam yang tiada akhir kelak.

Pungutlah ilmu dan hikmah dengan mencurahkan segenap indra dengar dan hati. Galilah hikmah lebih jauh dengan perenungan yang lurus dan mendalam. Ambillah hikmah itu, baik dari mereka yang telah mencapai kearifan maupun mereka yang masih awam. Hikmah adalah sesuatu yang paling didamba seorang mukmin.

Betapa tidak? Manusia beriman niscaya selalu mengharapkan dirinya beroleh keselamatan di alam keabadian, sementara keselamatan itu terpendam di antara hikmah-hikmah. Karenanya, mukmin bijak akan senantiasa mencari hikmah itu, di mana saja, dari siapa saja. Apakah itu datangnya dari anak-anak atau orang tua, dari seorang pembesar atau seorang yang hina, dari seorang yang taat atau durhaka.

Inilah model mukmin sejati. Ia tak pernah jenuh menasehati diri, selalu introspeksi pada perilakunya, dan selalu gigih menyelamatkan agamanya.

Salinglah menasehati wahai semua saudaraku, dan bahu-membahulah dalam menyongsong ridha Tuhanmu. Nasehat adalah bagian dari agama. Saling wasiat dalam perbuatan elok adalah ciri orang-orang yang beroleh kemujuran dari-Nya. Baginda Nabi SAW bersabda, “Makhluk, semuanya adalah keluarga Allah. Yang paling dicinta oleh-Nya di antara mereka adalah siapa yang paling banyak memberikan manfaat kepada keluarga.” Namun hendaknya diketahui, manfaat terbesar ialah manfaat yang menjamin kebahagiaan yang kekal, yang mengundang ridha Sang Kuasa di dalam surga-Nya yang penuh kenikmatan. Inilah manfaat yang menjadi puncak dari segala fadhilah dan kesempurnaan. Inilah maqam para nabi dan pewaris mereka.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Yazid bin ar-Raqqasyi, Baginda Rasul SAW bersabda, “Mari, kukabarkan kepada kalian tentang suatu kaum. Mereka bukan nabi bukan pula syuhada. Akan tetapi, para nabi dan syuhada seolah ingin seperti mereka karena begitu istimewanya tempat mereka di sisi Allah SWT. Ya, mereka berada di atas mimbar yang terangkai dari cahaya yang menjadi perlambang mereka.”

“Siapa gerangan mereka wahai Rasulullah?” tanya sahabat. “Mereka adalah orang yang gemar membuat Allah SWT cinta kepada hambaNya dan menyeru hamba untuk mencintai Allah SWT. Mereka berjalan di muka bumi dengan nasehat-nasehat.” Kami (para sahabat) bertanya lagi, “Kalau menyeru hamba agar mencintai Allah kami mafhum. Bagaimana membuat Allah cinta kepada hamba-Nya?” Rasul menjawab, “mereka mengajak para hamba melaksanakan segala hal yang dicintai Allah, dan mencegah mereka dari segala yang dibenci Allah. Jika mereka patuh, niscaya Allah mencintai mereka.”

Allah SWT mencipta ketaatan sebagai instrumen yang menggiring manusia menuju lebih dekat kepadaNya. Barangsiapa ditakdirkan untuk berada di dekat-Nya, berarti ia beroleh kemuliaan dan rahmat. Orang serupa ini kelak dilanggengkan di dalam surga bersama para hamba pilihan-Nya. Sebaliknya, Allah mencipta maksiat sebagai instrumen yang merenggangkan manusia dari-Nya. Barangsiapa ditakdirkan berjauhan dari-Nya, ia akan beroleh penyesalan tak berakhir. Kelak ia akan dijebloskan ke dalam siksaan yang pedih tiada tara. Semoga Allah menghindarkan kita dari azab-azab-Nya dan menuntun kita menuju jalan yang pernah dijejaki para kekasih-Nya.

FATAMORGANA

Renungkanlah wahai saudaraku, jalan mana yang hendak kau tempuh? Tempat mana yang lebih kau minati? Di sisi Sang Malik yang Maha Agung, di dalam surga-Nya yang baka dan penuh kenikmatan, serta kerajaan-Nya yang tak terhingga, ataukah di dalam kubang siksaan yang pedih bersama iblis yang terlaknat?

Demi Allah, sungguh celaka mereka yang berjalan dalam barisan iblis. Mereka bakal merasakan penyesalan yang berkepanjangan. Allah SWT berfirman:

إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا إِنَّمَا يَدْعُو حِزْبَهُ لِيَكُونُوا مِنْ أَصْحَابِ السَّعِيرِ
“Sesungguhnya setan itu adalah musuh bagimu, Maka anggaplah ia musuh, karena sesungguhnya setan itu hanya mengajak golongannya supaya menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.”

Benar, setan menebar tipu dayanya kepada manusia dengan pengharapan agar mereka kelak menjadi karibnya di neraka. Ia membisiki manusia agar berbuat maksiat dan bergabung dengan mereka. Orang-orang yang mengikuti bisikan ini akan menanggung segala penyesalan dan kesusahan yang tiada berkesudahan.

Setan adalah musuh yang nyata. Tekad setan adalah menjerumuskan manusia ke dalam dosa. Akan tetapi sayangnya, kebanyakan manusia tiada sadar akan hal ini. Hati mereka telah buta. Mereka tak menyadari siasat busuk itu. Mereka pun akhirnya masuk ke dalam jaring setan. Lalu sang laknat itu menyandera mereka dengan godaan-godaan yang melalaikan, menceburkan mereka ke dalam lembah kegelapan, dan akhirnya menenggelamkan mereka dalam berbagai gelombang dosa.

Telinga mereka akhirnya tuli dari kebenaran. Mata mereka buta oleh kebodohan. Lisan mereka bisu dari ayat-ayat Allah SWT. Mereka mencari apa yang tak bakal mereka raih. Mereka merasa nyaman dengan segala fasilitas duniawi. Mereka berlomba membinasakan diri sendiri, membangun rumah yang tak bakal mereka tinggali, mencintai semua yang akan mereka tinggalkan. Mereka juga membanggakan perbuatan cela, saling dengki atas hal-hal tak berharga, dan bergumul dalam lumuran dosa.

Kiranya, sungguh tepat bidikan panah yang dilepaskan setan. Air mata pun kini telah mengering. Apa sih yang manusia cari dari dunia yang fana ini? Sungguh, segala materi yang mereka kumpulkan itu tak menjamin keselamatan. Apa yang mereka cita-citakan itu tak membawa kesejahteraan abadi. Semua itu hanyalah fatamorgana yang dirancang sedemikian rupa oleh iblis. Memang lihai sekali ia mengemas kehinaan dengan hal-hal yang serba indah. Tampaknya, Ia begitu piawai memoles barang tak berarti menjadi sesuatu yang tampak begitu berharga dan mempesona….! Semoga kita tidak terperdaya oleh semua itu

Wednesday, October 23, 2013

Karomah dan Kekeramatan Habib Abdullah Bin Mukhsin Alattas ra ( Kramat empang Bogor)






Selama di penjara ke keramatan Habib Abdullah Bin Mukhsin semakin tampak sehingga semakin banyak orang yang datang berkunjung kerpenjaraan tersebut. Tentu saja hal itu mengherankan para pembesar penjara dan penjaganya. Sampai mereka pun ikut mendapatkan berkah dan manfaat dari kebesaran Habib Abdullah dipenjara, Setiap permohonan dan hajat yang pengunjung sampaikan kepada Habib Abdullah Bin Mukhsin selalu dikabulkan Allah SWT, para penjaga merasa kewalahan menghadapi para pengunjung yang mendatangi beliau Mereka lalu mengusulkan kepada kepala penjara agar segera membebaskan beliau. Namun, ketika usulan dirawarkan kepada Habib Abdullah beliau menolak dan lebih suka menungu sampai selesainya masa hukuman.

Pada suatu malam pintu penjara tiba–tiba terbuka dan datanglah kepada beliau kakek beliau Al Habib Umar Bin Abdurrohman Al Athas seraya berkata, Jika kau ingin keluar dari penjara keluarlah sekarang, tetapi jika engkau mau bersabar maka bersabarlah.
Beliau ternyata memilih untuk bersabar dalam penjara, pada malam itu juga Sayyidina Al Faqih Al Muqodam dan Syeh Abdul Qodir Zaelani serta beberapa tokoh wali mendatangi beliau. Pada kesempatan itu Sayyidina Al Faqih Al Muqodam memberikan sebuah kopiah. Ternyata dipagi harinya Kopiah tersebut masih tetap berada di kepala Al Habib Abdullah Padahal, beliau bertemu dengan Al Faqih Al Muqodam didalam impian.

Para pengujung terus berdatangan kepenjara sehingga berubahlah penjaraan itu menjadi rumah yang selalu dituju, Beliau pun mendapatkan berbagai kekeratan yang luar biasa mengingatkan kembali hal yang dimiliki para salaf yang besar seperti Assukran dan syeh Umar Muhdor
Diantara Karomah yang beliau peroleh adalah sebagaimana yang disebutkan Al Habib Muhammad Bin Idrus Al Habsyi bahwa Habib Abdullah Bin Mukhsin Al Athas ketika mendapatkan anugrah dari Allah SWT, beliau tenggelam penuh dengan kebesaran Allah, hilang dengan segala hubungan alam dunia dan sergala isinya. Al Habib Muhammad Idrus Al Habsyi juga menuturkan, ketika aku mengujunginya Habib Abdullah Bin Mukhsin Al Athos dalam penjara aku lihat penampilannya amat berwibawa dan beliau terlihat dilapisi oleh pancaran Illahi. Sewaktu beliau melihat aku beliau mengucapkan bait –bait syair Habib Abdullah Al Hadad yang awal baitnya adalah sbb “ Wahaii yang mengunjungi Aku di malam yang dingin, ketika tak ada lagi orang yang akan menebarkan berita fitrah, Selanjutnya, kata Habib Muhammad Idrus, kami selagi berpelukan dan menangis, “
Karomah lainnya setiap kali beliau memandang borgol yang membelegu kakinya, maka terlepaslah borgol itu.
Disebutkan juga bahwa ketika pimpinan penjara menyuruh bawahannya untuk mengikat keher Habib Abdullah Bin Mukhsin maka dengan rante besi maka atas izin Allah rantai itu terlepas, dan pemimpin penjara beserta keluarga dan kerabatnya mendapat sakit panas, dokter tak mampu mengobati penyakit pemimpin penjara dan keluarganya itu, barulah kemudian pemimpin penjara sadar bahwa ;penyakitnya dan penyakit keluarganya itu diakibatkan Karena dia telah menyakiti Al Habib yang sedang dipenjara.

Kemudian, kepala penjara pengutus bawahannya untuk mendo’akan, penyakit yang di derita oleh kepala penjara dan keluarganya itu agar sembuh Maka, berkatalah Habib Abdullah kepada utusan itu Ambillah borgol dan rante ini ikatkan di kaki dan leher pemimpin penjara itu, maka akan sembuhlah dia.

Kemudian dikerjakanlah apa yang dikatakan oleh Habib Abdullah, maka dengan izin Allah SWT penyakit pimpinan penjara dan keluarganya seketika sembuh. Kejadian ini penyebabkan pimpinan penjara makin yakin akan kekeramatan Habib Abdullah Mukhsin Al Athas. Sekeluarnya dari penjara beliau tinggal di Jakarta selama beberapa tahun.

Perjalanan ke Empang
Dari sumber lain disebutkan, bahwa awal mula kedatangan Habib Abdullah Bin Mukhsin Al Athas ke Indonesia, pada tahun 1800 Masehi, waktu itu beliau diperintahkan oleh Al Habibul Imam Abdullah bin Abu Bakar Alayidrus, untuk menuju Kota Mekah. Dan sesampainya di Kota Mekah, beliau melaksanakan sholat dan pada malam harinya beliau mimpi bertemu dengan Rasullah SAW, entah apa yang dimimpikannya, yang jelas ke esok harinya beliau berangkat menuju Negeri Indonesia.

Sesampainya di Indonesia, beliau dipertemukan dengan Al Habib Ahmad Bin Hamzah Al Athas yang da dipakojan Jakarta dan beliau belajar ilmu agama darinya, lalu Habib Ahmad Bin Hamzah Al Athas memerintahkan agar beliau datang berziarah ke Habib Husen di luar Batang, dari sana sampailah perjalanan beliau ke Bogor Beliau datang ke Empang dengan tidak membawa apa-apa, 
Pada saat belau datang ke Empang Bogor, disana disebutkan bahwa Empang yang pada saat itu belum ada penghuninya, namun dengan Ilmu beliau bisa menyala dan menjadi terang benderang Diceritakan, ada kekeramatan yang lain terjadi pula ketika beliau tengah makan dipinggiran empang, kebetulan pada saat itu datang kepada beliau seorang penduduk Bogor dan berkata “ Habib, kalau anda benar-benar seorang Habib Keramat, tunjukanlah kepada saya akan kekeramatannya..

Pada saat itu kebetulan Habib Abdullah Bin Mukhsin Al Athas tengah makan dengan seekor ikan dan ikan itu tinggall separuh lagi. Maka Habib Abdukkah berkata” Yaa sama Anjul ilaman Tabis,” ( wahai ikan kalau benar-benar cinta kepadaku tunjukanlah) maka atas izin Allah SWT, seketika itu juga ikan yang tinggal sebelah lagi  meloncat ke empang. Konon ikan sebelah tersebut sampai sekarang masih hidup dilaut.

Masjid Keramat Empang didirikan sekitar tahun 1828 M. pendirian Masjid ini dilakukan bersama para Habaib dan ulama-ulama besar di Indonesia. Di Sekitar Areal Masjid Keramat terdapat peninggalan rumah kediaman Habib Abdullah, yang kini rumah itu ditempati oleh Khalifah Masjid, Habib Abdullah Bin Zen Al Athas. Didalam rumah tersebut terdapat kamar khusus yang tidak bisa sembarang orang memasukinya, karena kamar itu merupakan tempat khalwat dan zikir beliau. Bahkan disana terdapat peninggalan beliau seperti tempat tidur, tongkat , gamis dan sorbannya yang sampai sekarang masih disimpan utuh.

Kitab-kitab beliau kurang lebih ada 850 kitab, namun yang ada sekarang tinggal 100 kitab, sisanya disimpan di “Jamaturkhair atau di Rabitoh”. Tanah Abang Jakarta. Salah satu kitab karangan beliau yang terkenal adalah “Faturrabaniah” konon kitab itu hanya beredar dikalangan para ulama besar, Adapun karangannya yang lain adalah kitab “Ratibul Ahtas dan Ratibul Hadad.” Kedua kitab itu merupakan pelajaran rutin yang diajarkan setiap magrib oleh beliau kepada murid-muridnya dimasa beliau masih hidup, bahkan kepada anak dan cucunya, Habib Abdullah Bin Mukhsin Al Athas menganjurkan supaya tetap dibacanya.

Habib Abdullah Bin Al Athas, adalah seorang Waliyullah dengan kiprahnya menyebarkan Agama Islam dari satu negeri kenegeri lain. Di Kampung Empang beliau menikahi seorang wanita keturanan dalem Sholawat. Dari sanalah beliau mendapatkan wakaf tanah yang cukup luas, sampai sekarang 85 bangunan yang terdapat di kampung Empang didalam sertifikatnya atas nama Al Habib Abdullah Bin Mukhsin Al Athas.

Semasa hidupnya sampai menjelang akhir hayatnya beliau selalu membaca Sholawat Nabi yang setiap harinya dilakukan secara dawam di baca sebanyak seribu kali, dengan kitab Sholawat yang dikenal yaitu “ Dala’l Khoirot” artinya kebaikan yang diperintahkan oleh Allah SWT. Menurut Manakib, beliau dipanggil Allah SWT pada hari Selasa, 29 Zulhijjah 1351 Hijriah diawal waktu zuhur Jenazah beliau dimakamkan keesokan harinya hari Rabu setelah Sholat zuhur. Tak terhitung jumlah orang yang ikut mesholatkan jenazah. Beliau dimakamkan di bagian Barat Masjid An nur Empang,sebelum wafat beliau terserang sakit flu ringan.

Keindahan Senda Gurau Rasulullah s.a.w.







Assalamualaikum wr wb
Coba anda perhatikan bagaimana indahnya senda gurauan Rasulullah s.a.w. yaitu seperti diriwayatkan bahwa seorang tua perempuan telah mendatangi Rasulullah s.a.w. Maka baginda telah bergurau dengannya dengan berkata: Orang tua tidak boleh masuk syurga. Lalu menangislah si perempuan tua itu, tetapi segera pula Rasulullah s.a.w. berkata lagi: Anda tidak lagi menjadi tua bangka pada ketika itu! Lalu dibacakan kepadanya firman Allah Ta’ala.

“Kami (Allah) pertumbuhkan mereka itu (kaum wanita) suatu tumbuhan. Maka Kami tukarkan mereka itu menjadi dara-dara.” (al-Waqi’ah: 35-36)

Dalam sesuatu peristiwa yang lain, diceritakan bahawa ada seorang perempuan datang kepada Rasulullah s.a.w. lalu berkata: Suamiku menjemputmu ke rumah! Baginda lalu berkata: Siapa dia suamimu itu? Apakah ia yang matanya ada putih-putih itu? Perempuan itu menjawab: Demi Allah, mata suami saya tidak ada putih-putih. Kemudian baginda berkata lagi: Bahkan di matanya ada putih-putih. Perempuan itu tetap menolak dengan berkata: Demi Allah, tidak. Maka barulah Rasulullah s.a.w. menerangkan lagi: Malah setiap orang memang ada pada matanya putih-putih. Maksud baginda ialah putih yang mengelilingi mata yang hitam itu.

Ada seorang perempuan lain yang datang kepada Rasulullah s.a.w. lalu berkata: Wahai Rasulullah! Berikanlah saya seekor unta yang saya boleh mengenderainya. Baginda berkata: saya akan berikan engkau seekor anak onta untuk kau naiki. Kata perempuan itu pula: apa yang akan saya lakukan jika anak onta tersebut tidak kuat membawa saya? Jawab Rasulullah s.a.w. Tiada ada seekor unta, melainkan ia dulunya anak unta.

Berkata Anas: Abu Talhah mempunyai seorang putra yang dipanggil dengan nama Abu Umair. Rasulullah s.a.w sering datang kepada mereka dengan berkata: Wahai Abu Umair! Apa khabar anak burung engkau? Kerana Abu Umair memang suka sangat bermain-main dengan anak burung tersebut.

Berkata Siti Aisyah radhiallahu-anha: Saya ikut bersama-sama Rasulullah s.a.w. dalam ghazwah (peperangan) Badar, lalu baginda berkata kepada saya: Mari kita berlomba lari! Maka saya pun menyingsing lengan dan menggariskan satu garisan tanda di tanah, dan dari situ kami pun berlomba lari, tetapi dia (baginda) telah mendahului saya. Kemudian baginda berkata : Ini ganti yang dulu di Dzul-Majaz. Dia mengingatkan saya suatu hari dulu, bila kami sedang berada di Dzul-Majz dan pada ketika itu saya masih kecil lagi. Bapa saya telah memberi saya suatu barang, lalu baginda berkata kepada saya: Berikanlah saya barang itu. Saya enggan memberikan kepadanya, dan saya pun lari. Tiba-tiba baginda berlari di belakang saya, tetapi ia tidak dapat mengejar saya.
Dari Abu Salamah pula: Rasulullah s.a.w. sering memanjakan cucuandanya al-Hasan bin Ali r.a dengan menjelirkan lidah kepadanya. Apabila al-Hasan melihat keadaan itu ia ketawa gembira.
Berkata Uyainah al-Fizari: Demi Allah, saya mempunyai seorang anak saja, sekarang ia telah berkahwin dan telah tumbuh rambut mukanya, tetapi saya tak pernah menciumnya sama sekali. Maka baginda pun bersabda:
“Siapa yang tak mempunyai belas kasihan, tak akan dibelas kasihani.”

Semua sifat-sifat kelemah-lembutan ini berlaku pada golongan kaum wanita dan kanak-kanak kecil. Rasulullah s.a.w telah memperlakukan yang demikian kepada mereka karena memandang lemahnya hati mereka, bukan kerana kecenderungannya kepada senda gurau semata-mata.

Pernah sekali Rasulullah s.a.w. berkata kepada Suhaib yang sedang makan korma, padahal ia terkena sakit mata. Kata baginda: Boleh makan korma juga? Bukankah matamu sakit? Jawab Suhaib: Saya makan dengan sebelah mata saja, wahai Rasulullah! Mendengar jawapannya Rasulullah s.a.w. tersenyum saja. Dalam setengah riwayat pula sehingga kelihatan gigi serinya.

Nu’aiman al-Ansari adalah seorang yang suka bergurau. Tiap-tiap kali ia datang ke Madinah ia membeli sesuatu barang di pasarnya, lalu membawanya sebagai hadiah kepada Rasulullah s.a.w. dengan berkata: Wahai Rasulullah! Saya telah membeli ini dan saya hadiahkan untukmu. Sekejap lagi datanglah tuan puya barang itu menuntut harga barang yang dibelinya tadi, maka ia membawa orang itu menghadap Rasulullah s.a.w. dengan berkata pula kepada baginda: Wahai Rasulullah, bayarkanlah harga barang tadi. Baginda pun bertanya kepada Nu’aiman: Bukankah barang itu engkau berikan kepada aku sebagai hadiah? Nu’aiman menjawab: Benar, wahai Rasulullah! Tetapi saya tak punya harganya dan saya suka tuan hamba memakannya. Mendengar yang demikian Rasulullah s.a.w. hanya ketawa, dan segeralah Baginda membayar harganya.

Shalawat & salam semoga selalu tercurah kepada junjungan kita Sayiddina Muhammad saw beserta keluarga & para sahabatnya yang mulia.